Showing posts with label Praying. Show all posts
Showing posts with label Praying. Show all posts

Thursday, 14 July 2011

Motivasi masuk surga: tak ingin hanya menyentuh gambarmu, tapi bercerita sambil menatap dalam matamu dan mengalirkan rindu.. Nenekku syg :">



Sunday, 26 June 2011

Being a human is not that easy

Ternyata menjadi seorang khalifah di muka bumi ini dengan beribu amanah yang disampaikan Allah melalui para perantara-Nya tidaklah mudah. Kita dikaruniai berjuta nikmat yang tak terhitung jumlahnya semenjak kita terlahir di muka bumi ini, namun sampai detik ini mengapa masih saja ada perasaan membangkangkan dalam hati kita dengan mengumpat karunia-Nya...

Astagfirullahaladzim..

Ya Allah..
Ampunilah diri ini..

Apalah arti seluruh kekayaan materi yang aku terima apabila kekayaan hati saja masih aku abaikan..
Apalah arti cita-cita yang indah apabila aku tak melibatkan Engkau di dalam urusanku..

Ya Allah..
Permudahkanlah jalanku..

Saat ada setitik niat baik di dalam hati ini, bukakanlah sejuta pintu peluang untukku dan biarkanlah aku melihat pintu tersebut sehingga aku masuk ke dalamnya dan mengambil kesempatan lain yang Engkau berikan..

Ya Allah..
Bukakanlah mata hatiku..

Apapun yang aku lihat dengan mataku, biarkanlah mata hatiku melihat dan biarkanlah hati ini mencerna setiap kejadian dari sisi positif..

Ya Allah..
Sembuhkanlah hati ini..

Engkau yang memberikan setiap rasa di hati ini, Engkau pulalah yang memegang kendali untuk menghilangkan rasa ini. Jika saja kebencian mulai mendominasi hati ini, biarkanlah kebaikan menyembukan hati ini ya Allah..

Ya Allah..
Tolong hambamu..

Aku sedang dalam perjalananku untuk selalu belajar memahami setiap arti dalam hidup yang kulalui ini. Jika saja ada kesalahan yang aku lakukan, maafkanlah aku. Biarkan aku mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada. Jadikan aku manusia yang selalu bertumbuh lebih baik dari hari ke hari. Seandainya penyakit hati telah meracuniku, sembuhkanlah aku dengan kasih sayangMu..

Ya Allah..
Aku sayang kepada-Mu..

Di setiap hembusan nafas yang aku keluarkan, aku belajar untuk selalu ingat kepada-Mu. Aku tak mengharapkan surga-Mu. Terlalu muluk bagiku. Biarlah dunia ini yang mutlak adanya dimana aku sedang berada didalamnya memberikanku banyak pengalaman hidup.

Ya Allah..
Tuntun aku..

Apalah arti terang benderang jika aku tak memiliki-Mu sebagai penuntunku. Lebih baik aku berjalan di dalam kegelapan tetapi ada Engkau yang menunjukkan aku jalan yang benar daripada aku harus jalan menyusuri keadaan yang terang benderang tanpa Engkau..

Ya Allah..
Di saat dukaku dan disaat sukaku. lapangkanlah hatiku..

Berikanlah kebahagiaan yang nyata saat aku melihat orang-orang yang aku cintai bahagia. Berikanlah kedamaian di hati ini bahwa aku adalah orang yang paling beruntung memiliki diriku sendiri.

Ya Allah..
Kabulkanlah doaku..

Di setiap rintih sakitku dan haru bahagiaku, dengarkanlah aku..
Aku sayang pada-Mu.

Allahu Akbar..
Allah Maha Besar..

Friday, 24 June 2011

Untuk Emak Sayang..

Assalamualaikum..

Emak sayang..
Apa kabarmu, nenekku yang paling cantik? Aku harap Emak tidak terkejut menerima surat ini. Entah karena perkara apa, aku hanya percaya bahwa Tuhan menyediakan akses bagiku menulis surat ini untuk Emak.

Emak sayang,
saat aku menulis surat ini, aku baru saja menyelesaikan penulisan kata pengantar untuk tugas akhirku. Nama Emak kucantumkan dengan penuh kasih sayang dan kerinduan mendalam di halaman itu. Aku baru saja melalalui hari-hari yang sangat melelahkan di kampus demi menuntaskan tugas akhirku untuk pelulusanku tahun ini. Oh iya, mak.. Emak tenang saja.. Emak tak perlu memikirkan biaya kuliah ku. Bibi selalu menyempatkan dirinya untuk memberikan aku beberapa lembar uang puluhan ribu untuk biaya hidupku selagi aku kuliah. Emak juga tak perlu khawatir mengenai kelengkapan kuliahku, baju muslimku, atau mukenaku. Mukena pemberianmu masih sangat bagus. Aku pikir aku tidak akan membutuhkan mukena yang baru. Aku akan tetap mengenakan mukena cantik pemberianmu tahun lalu untuk lebaran tahun ini.

Emak sayang,
Tadi siang aku menemukan rekapan chatting-ku bersama salah satu temanku mengenai kekagumanku terhadap kebaikanmu. Pada saat itu, aku sedang membicarakan kedatanganmu ke rumah ku yang lagi-lagi engkau selalu menyempatkan waktu untuk memberikan aku beberapa lembar uang puluhan ribu. Engkau bilang bahwa engkau sedang memiliki kelebihan rejeki seraya memperlihatkan kepadaku beberapa uang ratusan ribu. Sedang pada saat aku, sayup-sayup aku dengar percakapanmu dengan ibuku dari dapur; percapakapan serius mengenai biaya pajak yang hampir jatuh tempo dan harus segera engkau bayar.

Emak tahu tidak?
Setiap aku bertatapan wajah denganmu, aku selalu memandang dalam ke matamu yang coklat jernih yang masih bisa membaca alqur'an dan melihat pemandangan jauh dengan masih sangat jelas tanpa menggunakan lensa tambahan seperti aku. Setiap aku masuk ke dalam matamu, aku selalu berkata kepada Tuhan "Andai aku punya mata seindah milikmu..". Setiap aku berbicara denganmu, aku akan khusyuk memperhatikan bola matamu yang sangat indah. Tak ada seorangpun yang boleh menggangguku memperhatikan matamu. Matamu ini seolah-olah sebuah sinyal bagiku untuk selalu memperhatikanmu pada saat engkau berbicara. Seolah-olah Tuhan sedang memberikanku isyarat bahwa engkau tak lama lagi meninggalkanku.

Emak sayang..
Tak pernah ada bait puisi yang bisa aku tulis seindah tulisanku untukmu. Semenjak engkau pergi, aku selalu merindukanmu. Air mata ini sangat sulit untuk kutahan, terutama setiap saat aku menyebut nama lengkapmu setelah aku mengucapkan 'Khusushon ilaa ruuh..".

Emak..
Maafkan aku sebelumnya, emak. Terhitung baru satu kali aku mengunjungi rumahmu tanpa kehadiranmu setelah engkau pergi sekitar tiga bulan lalu. Setiap aku menyempatkan diri pulang ke Cikarang, aku tidak selalu punya banyak waktu untuk mengunjungi rumahmu. Selain itu, rasanya aku tak kuat menaaan rasa rindu ini yang akan selalu aku ungkapkan melalui butiran air mata jika aku mengucapkan "rumah nenek" tanpa aku temukan "nenek" ku di rumah itu. Pada saat itu, seperti biasa, kita melakukan kebiasaan kita tiap datang mengunjungi rumahmu. Aku dan orangtuaku beserta bibi dan kakek mengadakan makan bersama sambil lesehan. Para wanita berbondong-bondong membawa hidangan dari dapur menuju ruang tengah. Saat makanan sudah terhidang semua, aku seperti sedang menunggu sesuatu. Yaa.. aku menunggumu, emak.. Aku pikir pada saat itu engkau masih di dapur membereskan makanan yang belum sempat dibawa ke ruang tengah, tapi.. ya.. aku terhenyak. Nampaknya aku belum terbiasa makan tanpa kehadiranmu.

Emak-ku sayang..
Terkadang bodohnya aku yang selalu menghitung amal ibadahku sendiri. Aku pikir saat amal ibadahku minimal bisa lebih banyak dari amal burukku, aku akan pergi melihatmu di surga. Tapi aku sadar.. banyaknya amal ibadahku tak sebanding dengan kebaikanmu. Lalu, aku urungkan niatku. Biarlah aku disini. Terpisah darimu. Mungkin ini sudah takdirku denganmu.

Emak..
Mungkin jika aku yang pergi terlebih dahulu meninggalkan engkau, engkau akan selalu mengajak orangtuaku untuk mengunjungi peristirahatan terakhirku setiap bulan..
Mungkin jika aku yang pergi terlebih dahulu meninggalkan engkau, engkau akan selalu membacakanku shalawat dan doa setiap harinya di atas sajadahmu.

Tapi emak..
Nyatanya engkau yang lebih dulu meninggalkanku..

Emak,
Tak banyak yang bisa aku amalkan setiap hari..
Aku hanya bisa untuk selalu bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptkan Kamis.
Karena disana lah aku bisa mengirimkan kasih sayangku untukmu melalui yasinku.

Emak..
Aku pernah mendengar hadits bahwa jarak terdekat Tuhan dengan hambanya adalah ketika ia sedang bersujud. Maka disitulah aku selalu membisikkan namamu kepada Tuhan.. di setiap sujudku.



Aku sayang padamu, Emak..
Sayang sekali..

Cucumu yang sangat mencintaimu

One more time.. I miss you..

have you ever felt so envious when seeing someone?
what kind of person you envy for?

For me,
there is nothing I feel jealous a lot than seeing a grandmother aged about over than 60 years-old.

Seeing that grandmother reminds me of my grandmother.
If she were still alive, her age would be about that age.

I really want to know what she is doing right know...
this moment...
when I am writing anything about her.

I really want to know what she is thinking right know..
this moment..
when I am here thinking about her...

I miss you, grandma..

Tuesday, 14 June 2011

Grandma, How Are You?

Grandma..
How are you?

I miss you, grandma..
It seems that..
It was yesterday when I saw you smiling at me..
It was yesterday when I saw you kissing my cheeks..
It was yesterday when I saw you laughing at my jokes..
It was yesterday when I saw you cooking my favorite foods..
It was yesterday when I saw you sleeping beside me..
It was yesterday, grandma..
But today.. Where are you?

Have you ever felt missing someone a lot?
Someone who has passed away..

Have you ever felt that you prefer going to die and meet him/her?
That is what I am feeling right now..

I miss my grandma.. So much..
I miss everything about her..
Especially her kindness.
There no one as friendly as her..


Grandma..
I believe you are in heaven now..
Having the greatness of the God's heaven while looking at me from the above..

Grandma..
I always pray for you from my place..
I miss you..

Monday, 16 May 2011

Khusnul Khatimah

Satu hal yang saya takutkan. Rasa takut ini melebihi dari seluruh ketakutan atas apapun, yaitu:

SU'UL KHATIMAH.

Betapa tidak. Hidup ini layaknya sebuh cerita. Saat cerita itu memilik akhir yang buruk, meskipun jalan ceritanya cennderung baik, akankan film itu berkesan dan memuaskan? Tentu tidak, menurut saya.

Kita memang tidak bisa membandingkan kedua hal dengan hal detil yang sangat identik. Tetapi itu hanya sebuah perumpaan. Menurut saya 'khatimah' ataupun akhir dari kehidupan di muka bumi ini merupakan hal yang sangat esensial. Apalah arti sebuah kehidupan jika tidak memiliki akhir yang baik.

Sesorang pernah berkata kepada saya "lebih baik mana? Pemuka agama yang meninggal di atas perut wanita lain tanpa berbusana? Ataukah pemabuk yang meninggal pada saat menjadi bilal?". Keduanya menurut saya tidak baik, tetapi dari situ kita akan lebih simpati kepada hal yang kedua; pemabuk yang meninggal pada saat menjadi bilal. Setuju?

Begitu pentingnya suatu akhir kehidupan bagi saya, hingga pada saat sahabat saya pergi umrah dan ia memperbolehkan saya untuk mengajukan beberapa doa, doa saya yang paling pertama adalah; semoga saya, orangtua saya, adik-adik saya dan sanak famili saya mendapatkan khusnul khatimah di akhir hayat kami nanti (amin).

Untuk pencapaian suatu khusnul khatimah yang indah pun tidak dengan sebegitu mudahnya. Sekarang saya mulai merasakan detik-detik yang Allah berikan kepada saya. Dengan adanya pencapaian cita-cita ini, saya sekarang lebih sadar, bahwa syukur dan tafakkur membuat hidup kita lebih terkontrol. Dan alangkah indah hidup ini jika segala sesuatunya berada di bawah kendali kita, bukan di bawah kendali hawa nafsu. Untuk mengendalikan hawa nafsu pun tidak semudah itu. Saya berusaha untuk selalu menjalankan hal-hal yang positif. Saya memiliki daftar yang harus saya lakukan. Ada daftar perhari, yakni untuk jangka pendek, dan ada daftar tahunan, yakni untuk jangka panjang. Daftar ini saya buat untuk selalu memotivasi hidup saya. Apa yang saya cita-citakan harus memiliki pengorbanan, dan mengingatkan saya bahwa impian harus sebanding dengan pengorbanan. Dan daftar ini selalu mengingatkan saya bahwa apalah artinya impian dan kerja keras jika kita tidak melibatkan Allah di dalamnya.

Untuk daftar harian, saya sebut itu sebagai hisab atau perhitungan. Ini untuk memotivasi saya untuk selalu beribadah kepada Allah.

Hisab harian~ SUDAHKAH PUJI HARI INI:
1. Bangun tidur dengan bersyukur?
2. Shalat tepat waktu?
3. Menjawab adzan?
4. Tidak takabbur?
5. Dzikir/ingat Allah?
6. Sedekah?
7. Banyak senyum?
8. Ingat Bapak dan Ibu?
9. Tidak membubazirkan sesuatu?
10. Menuntut ilmu dengan baik?
11. Melaksanakan sunah (puasa atau shalat sunah)
12. Menangis karena dosa?
13. Mentafakuri sesuatu?
14. Membaca Alquran dan terjemahannya?

Dan apa yang kita buat memang tak luput dari ketidaksempurnaan dan kehilapan. Dari semua nomor ini, terkadang saya tidak melaksanakan semuanya. Dan memang dari list di atas tidak ada hal yang muluk yang bisa saya kerjakan. Saya hanya mencoba untuk jujur kepada diri sendiri. Jujur dalam melaksanakan hal apapun, dan jujur bahwa sesungguhnya hal yang kurang baik untuk dikerjakan akan menghasilkan suatu hasil yang kurang baik juga. Oleh karena itu, saya menata kehidupan saya seperti ini karena saya jujur bahwa dengan melakukan list ini lah saya bisa benar-benar merasakan arti kehidupan.

What do I live for?

The world is getting worse recently. If it is not for doing good things, what do I live for?

I love this sentence. I made this quote by my self after watching lots of disasters in this world recently.

I somehow feel that Allah wants to make me realize that a death can come so easily.

Semenjak kejadian meninggalnya nenek tercinta, yang kemudian disambut oleh beberapa peristiwa menyedihkan yang dialami oleh sahabat dekat sendiri dimana kakak kandungnya yang membiayai ia kuliah meninggal dalam kecelakaan pesawat Merpati sekitar seminggu lalu, saya merasa bahwa 'jika kematian bisa menimpa siapapun, kapanpun, dan apapun yangg sedang manusia lakukan, itu juga yang akan terjadi kepadaku'.

Banyak yang bisa saya pelajari dari berbagai peristiwa haru ini, dan yang elemen paling penting menurut saya mengenai kematian adalah, apa yang akan kita bawa dan apa yang akan kita tinggalkan nanti?

dari pertanyaan pertama; apa yang akan kita bawa, itu sudah berkaitan dengan agama. Apa yang kita tanam, maka akan kita petik di kehidupan selanjutnya. Sekarang yang saya renungkan adalah, apa yang akan saya tinggalkan kepada keluarga dan sanak saudara nanti?

Pada masa-masa kritis sang nenek tersayang, ia harus menjalani biaya perawatan yang bisa dibilang tidak murah, karena ia harus menginap di ruang ICU selama beberapa hari. Pada saat itu, betapa mereka, anak-anaknya yakni orangtua saya dan paman-bibi saya dengan tidak sama sekali keberatan membayar seluruh biaya sang nenek tercinta. Atas dasar kasih sayang dan pengorbanan terakhir dari para anak, mereka membiayai seluruh perawatan. Alhamdulillah, rejeki yang selalu Allah limpahkan kepada kami yang selalu berkecukupan, akhirnya bisa menutupi seluruh biaya terssebut. Dan ajaibnya keajaiban Allah, nenek tercinta tak lama sakit, hingga akhirnya meninggalkan kita semua. Menurut para kolot, itulah yang disebut 'sang almarhumah tidak ingin merepotkan kepada yang ia tinggalkan'. Subhanallah sekali. Sungguh kematian yang khusnul. Memang, selama hidupnya, sang nenek tidak pernah sekalipun merepotkan kami. Ia sangat rendah hati dan baik budi. Dan hingga akhirnya sampai akhir hayatnya pun, ia sama sekali tidak memberatkan kami yang ditinggalkan. Justru banyak keajaiban Allah yang bisa kita rasakan atas sepeninggalnya almarhumah, yang subhanallah sekali. Sampi sekarang, kami yang ditinggalkan tidak pernah merasa kesusahan ataupun kerepotan.
Di sisi lain, mengenai peristiwa yang menimpa sahabat saya bahwa kakak kandungnya yang dinas di Papua meninggal saat kecelakaan pesawat Merpati. Sang kakak adalah polisi yang baru saja naik pangkat. Almarhum adalah bisa dibilang aparat keamanan yang jabatannya tinggi di bidangnya. Dengan seluruh prestasi yang ia dapat, ia adalah orang yang sangat berwibawa dan sholeh. Seorang pekerja keras yang sayang kepada keluarga pergi meninggalkan orang-orang tersayang. Namun, memang orang sholeh selalu memberi bekas yang indah kepada orang-orang yang ditinggalkan setelah kepergiannya. Para kolot menyebutnya sebagai 'mere bubungah'. Dikatakan oleh beberapa media di televisi bahwa setiap penumpang diberi santunan kepada sanak famili sebesar 700juta. Di samping itu, pihak polisi pasti akan memberikan santunan yang lebih besar lagi mengingat bahwa almarhum adalah orang yang memiliki posisi yang penting. Disini saya tidak membahas jumalh digit angka yang didapatkan bagi yang ditinggalkan, tapi bisa dibayangkan, saat yang ditinggalkan mendapatkan santunann seperti itu, adakah setitik cahaya dari kehidupan yang cerah?

Yang saya tekankan disini adalah mengenai apa yang bisa saya tinggalkan nanti? Setidaknya tidak ada yang bisa saya tinggalkan dengan jumlah uang sebanyak yang saya sebutkan di atas, minimal pada saat saya sakit atau masa-masa terakhir hidup saya, seperti biaya pengobatan atau perawatan, saya tidak merepotkan keluarga saya.

Coba kalian bayangkan, jika kita adalah punggung keluarga yang memikul seluruh biaya dan harus menafkahi seluruh anggota keluarga,, dan kita mencapai batas usia kita, apa yang keluarga kita rasakan? Tidak ada orang yang bisa mereka jadikan tempat bergantung. Kehilangan orang yang disayang dan kehilangan asa untuk menyambung kehidupan. Coba jika kita bisa meninggalkan sedikitnya biaya untuk orang-orang yang kita tinggalkan melangsungkan kehidupan, minimal kita bisa mengurangi kesedihan mereka dengan 'mere bubungah' kepada mereka untuk melangsungkan kehidupan, seolah berkata 'aku harus pergi, ini aku titipkan sejumlah uang untuk biaya hidup sepuluh tahun ke depan'.

Dari pemikiran saya ini, mulai detik ini saya memutuskan untuk bergabung menjadi anggota untuk asuransi jiwa. Saya berharap, suatu saat nanti hingga usia saya sudah mencapai batas akhir, saya bisa memberikan orang-orang yang saya tinggalkan sejumlah uang.

Saturday, 30 April 2011

Teruntuk Tuhan yang jaraknya kini tak jauh dari nenekku

-Postingan beberapa hari sebelum Ia meninggalkan aku-

Tuhan, mungkin aku adalah seorang anak yang terkadang tak mendengarkan nasihat orang tuaku sepenuhnya. Namun percayalah Tuhan, bahwa tiada kasih sebesar kasih seorang nenek yang kini sedang kau dekati kepada seorang anak seperti aku. Aku harap Engkau membaca setiap rangkaian kata yang aku tulis.

Kepada Mu yang jaraknya kini tak jauh dari nenekku. Mungkin mereka sekelompok orang berbaju putih yang juga termasuk hambamu berkata bahwa nenekku tak akan lama lagi akan bertemu denganMu, tapi aku percaya kepadaMu bahwa takdirMu lebih indah daripada keputusan mereka.

Engkau Maha Mendengar, seorang nenek tua renta tak berdaya sedang berada di ruang yang tak seorangpun boleh menyentuhnya kecuali sekelompok orang putih itu. Ia sedang berjuang keras untuk menyanggupi takdirMu. Ia berbicara kepadaMu. Tuhan, tolong dengar bisiknya. Baik-baik.

Engkau Maha Tahu, terlalu banyak kenangan yang takkan bisa terhapus dari memori otakku sedari aku kecil hingga detik ini aku mengetik surat ini untukMu. Tak ada sedetik waktu dari dirinya yang jarum jam hentakkan untuk tidak memikirkanku. Cucunya. Ia yang tak pernah lupa untuk menghempaskan kata-kata pembangkit semangat saat Ia singgah ke rumah orangtuaku untuk bertemu diriku.

Engkau Maha Pencipta, terlalu banyak harapan-harapan indah yang sedang aku ukir untuk membelikan Ia satu senyuman yang akan berbunga di bibirnya. Senyuman yang akan Ia bawa hingga aku tua nanti.

Engkau harus tahu, Tuhan. Setiap ia mengucap salam untuk meninggalkan jejak kakinya di rumahku, selalu ke cium dan ku hisap wangi pipi dari kulitnya yang berhias oleh lipatan halus sisa usia yang Engkau berikan.

Engkau harus tahu, Tuhan. Setiap ia hendak pergi jauh ataupun sehabis menjemput rejeki yang diberikan olehMu, ia selalu menyelipkan beberapa lembar uang di saku bajuku. Tak banyak, Tuhan. Namun itu sanggup untuk mengisi celenganku yang suatu saat nanti akan kukembalikan kepadanya dengan jumlah berkali lipat dari ketulusannya.

Tuhan, telah aku tuliskan di dalam buku impianku untuk membawanya suatu saat nanti kepada impian yang sangat ia dambakan. Aku akan membawanya pergi untuk melihat hasil karya Mu yang luar biasa di bumi pertiwi ini. Aku ingin membawanya pergi mengelilingi Indonesia sebelum aku menerbangkannya menuju negara di sebrang.

Tuhan, telah aku tuliskan daftar nama yang akan pergi untuk menyaksikan aku memakai toga dan menerima buah hasil belajarku. Aku tahu kemampuannya melihat sudah berkurang, oleh karena itu aku telah menempatkannya di barisan terdepan agar ia mampu melihat dengan jelas wajahku yang berbinar dengan keharuan yang akan aku rasakan.

Tuhan, aku ingin ia melihat wajahku yang merona dan berseri saat penghulu dan calon suamiku kelak mengucapkan janji suci hingga akhir hayat itu. Aku ingin ia melihat betapa lucunya cicitnya yang nanti akan kuajari untuk mengucapkan kata “Emak” setelah ia bisa melafalkan namaku dan nama calon suamiku dengan baik.

Tuhan,

Suatu saat nanti, akan aku bisikkan satu kalimat ke telinganya dengan lembut,

“Mak, semua ini Puji lakukan untuk Emak.”

Tiada mata yg tak sembab di ruangan ini. Tuhan, sampaikanlah tiap doa kami yang tersublim menjadi tetes-tetes air mata ini ke langit.


Dari,

Seorang hamba yang menginginkan neneknya sembuh, agar ia bisa melihatnya lebih lebih lebih lama lagi.

The 40th Day of Her Funeral

My beloved grandma, Alamarhumah Hj. Aam Amanah......

Sadly missed along life's way,
quietly remembered everyday,
no longer in our lives to share,
but in my heart you are always there.

As you were you will always be, treasured forever in my memory.

Every moment of your life,
you lived to the fullest and brought so much joy to us.

You never complained when you were in pain.

Your enthusiasm, kindness, sweet spirit and pleasant personality won people in your surroundings from all over and all walks of life.

You will forever remain in my heart, grandma....

Deeply missed by your grandchild, and everyone who always loves you.


Who ever who reads this post, please pray for her.
I would like to express my heartfelt thanks and appreciation to all known and unknown friends who have prayed for her.

Thanks for your kind prayers, financial support, comforting messages, loves, expression of condolences and best wishes during her sickness, and please pray that, Hj. Aam Amanah may rest in peace. Amen.

I am deeply touched by your kindness and i am short of words to thank you all enough.

since 22 March, 2011.

Thursday, 28 April 2011

I am a lot missing you, grandma..

Almarhumah Hj. Aam Amanah Binti Lisan,
Alfatihah ...

Dear, grandma..
It's almost been 40 days since your funeral.
I actually never realize that you have already gone.
You are still here, dearest...
Here..
In my heart..
As always.

Dear, grandma..
I'm sorry for the tears that I can't fully hide in every time I read Yaasin and Fatihah for you..
It's just falling down.
Sorry for the watery eyes that I always show in every time I saw a moment where I and you also used to do together.
Sorry for the wet cheeks that I always make in every time I feel you are so close with me as I have never felt that close before.

Dear, grandma..
I actually can't move on to the reality that you have already gone.
Already gone..
You are the closest person ever I am comfortable with.
Ever...

Dear, grandma..
I do not know what should I talk about you.
I just miss you.
So much.

Tomorrow is your 40th day of your funeral.
I should give a movement.
I'll try my best not to cry over you.

Now,
I just want to say..
I always love you.
Forever.

With love,
Your lovely grandchild.

Thursday, 24 March 2011

I Miss You A Lot!

I am somehow thinking about my graduation photo shoot right now. I remember her. There will be no her at my graduation picture. Yap. I am falling tears while remembering that.

I feel her warmth. I know she's here. She never leaves me. Now, she is closer than she used to be when she was alive. She knows I miss her.

Now I can talk to her without knowing the time, because she's always beside me wherever I go. She always whispers something good to me.

It's done depending my self on her. Now it's time for her to count on me sending many prayers to her in her new place over there. Grandma :)

Wednesday, 23 March 2011

Her, her, and her

I had complete couples of grandparents; my mom's & dad's. Among them who I love the most is my grandma from my mom. She is the most grandparent I love and the first grandparent who has gone away :')

Every single second of my time, I always wonder, what is she doing right now? Does she miss me like I miss her a lot?

Does she know what I am feeling right know?
Does she know what I am doing right know?
Does she look at me from her new place over there?

Emak itu cuma tidur, dan pergi.
Emak masih ada disini.
Aku percaya.

Tuesday, 22 March 2011

I Love You Grandma

Selamat jalan, emak. Semoga kasih sayang Allah selalu mengalir kepadamu. Aku sangat mencintaimu. Selamanya. Sepanjang hidupku. Hingga suatu saat aku dan dirimu berada di suatu tempat yang sama.

Saturday, 19 March 2011

Teruntuk Tuhan yang jaraknya kini tak jauh dari nenekku


Tuhan, mungkin aku adalah seorang anak yang terkadang tak mendengarkan nasihat orang tuaku sepenuhnya. Namun percayalah Tuhan, bahwa tiada kasih sebesar kasih seorang nenek yang kini sedang kau dekati kepada seorang anak seperti aku. Aku harap Engkau membaca setiap rangkaian kata yang aku tulis.

Kepada Mu yang jaraknya kini tak jauh dari nenekku. Mungkin mereka sekelompok orang berbaju putih yang juga termasuk hambamu berkata bahwa nenekku tak akan lama lagi akan bertemu denganMu, tapi aku percaya kepadaMu bahwa takdirMu lebih indah daripada keputusan mereka.

Engkau Maha Mendengar, seorang nenek tua renta tak berdaya sedang berada di ruang yang tak seorangpun boleh menyentuhnya kecuali sekelompok orang putih itu. Ia sedang berjuang keras untuk menyanggupi takdirMu. Ia berbicara kepadaMu. Tuhan, tolong dengar bisiknya. Baik-baik.

Engkau Maha Tahu, terlalu banyak kenangan yang takkan bisa terhapus dari memori otakku sedari aku kecil hingga detik ini aku mengetik surat ini untukMu. Tak ada sedetik waktu dari dirinya yang jarum jam hentakkan untuk tidak memikirkanku. Cucunya. Ia yang tak pernah lupa untuk menghempaskan kata-kata pembangkit semangat saat Ia singgah ke rumah orangtuaku untuk bertemu diriku.

Engkau Maha Pencipta, terlalu banyak harapan-harapan indah yang sedang aku ukir untuk membelikan Ia satu senyuman yang akan berbunga di bibirnya. Senyuman yang akan Ia bawa hingga aku tua nanti.

Engkau harus tahu, Tuhan. Setiap ia mengucap salam untuk meninggalkan jejak kakinya di rumahku, selalu ke cium dan ku hisap wangi pipi dari kulitnya yang berhias oleh lipatan halus sisa usia yang Engkau berikan.

Engkau harus tahu, Tuhan. Setiap ia hendak pergi jauh ataupun sehabis menjemput rejeki yang diberikan olehMu, ia selalu menyelipkan beberapa lembar uang di saku bajuku. Tak banyak, Tuhan. Namun itu sanggup untuk mengisi celenganku yang suatu saat nanti akan kukembalikan kepadanya dengan jumlah berkali lipat dari ketulusannya.

Tuhan, telah aku tuliskan di dalam buku impianku untuk membawanya suatu saat nanti kepada impian yang sangat ia dambakan. Aku akan membawanya pergi untuk melihat hasil karya Mu yang luar biasa di bumi pertiwi ini. Aku ingin membawanya pergi mengelilingi Indonesia sebelum aku menerbangkannya menuju negara di sebrang.

Tuhan, telah aku tuliskan daftar nama yang akan pergi untuk menyaksikan aku memakai toga dan menerima buah hasil belajarku. Aku tahu kemampuannya melihat sudah berkurang, oleh karena itu aku telah menempatkannya di barisan terdepan agar ia mampu melihat dengan jelas wajahku yang berbinar dengan keharuan yang akan aku rasakan.

Tuhan, aku ingin ia melihat wajahku yang merona dan berseri saat penghulu dan calon suamiku kelak mengucapkan janji suci hingga akhir hayat itu. Aku ingin ia melihat betapa lucunya cicitnya yang nanti akan kuajari untuk mengucapkan kata “Emak” setelah ia bisa melafalkan namaku dan nama calon suamiku dengan baik.

Tuhan,

Suatu saat nanti, akan aku bisikkan satu kalimat ke telinganya dengan lembut,

“Mak, semua ini Puji lakukan untuk Emak.”

Tiada mata yg tak sembab di ruangan ini. Tuhan, sampaikanlah tiap doa kami yang tersublim menjadi tetes-tetes air mata ini ke langit.


Dari,

Seorang hamba yang menginginkan neneknya sembuh, agar ia bisa melihatnya lebih lebih lebih lama lagi.

Friday, 18 March 2011

Dear Cloudy Day

What should I do? I have nothing to say right now.
Everything seems to become worse.

My grandma is sick,
The new path next to my house makes me uncomfortable,
and the worrying thing is that I have not had any chances to meet the person in the company whose letters are going to be analyzed.

Now, what am I supposed to do?

Ya Allah.. I have tried tried and tried.
I surrender everything to you.
Please hear my prayers.
Amiin.

Friday, 11 March 2011

An improvement


A couple years ago, when I asked to my self 'when will you do Puasa Sunah Senin-Kamis regularly every week? When will you do Tahajud and Dhuha in each day regularly?', I always answered 'someday, when I am mature enough'

Now, my age is already 20, and I am still reluctant doing those things. What am I waiting for exactly?

Come on, Puji! It needs actions!

I have been doing Dhuha in each day since I go to the college. But you know, It's been very difficult to get up in the middle of the night to do Tahajud. Really difficult. I almost never do Tahajud even though I wake up for eating for fasting.

You know what happened then to me? I forced and forced and forced myself to wake up in the night. And it failed and failed and failed again, until two days ago, on Thursday, I finally could get up in the night for doing Tahajud while eating for fasting.

At that night, I could not stop smiling. I sent my thanks to Allah through my prayers. It was sooooo peaceful. I promise to my self, I will never leave this daily routine.

Alhamdulillah yaa Rabb.