Thursday, 14 July 2011
Sunday, 26 June 2011
Being a human is not that easy
Friday, 24 June 2011
Untuk Emak Sayang..
One more time.. I miss you..
Tuesday, 14 June 2011
Grandma, How Are You?
I believe you are in heaven now..
I always pray for you from my place..
I miss you..
Monday, 16 May 2011
Khusnul Khatimah
What do I live for?
Saturday, 30 April 2011
Teruntuk Tuhan yang jaraknya kini tak jauh dari nenekku
-Postingan beberapa hari sebelum Ia meninggalkan aku-
Tuhan, mungkin aku adalah seorang anak yang terkadang tak mendengarkan nasihat orang tuaku sepenuhnya. Namun percayalah Tuhan, bahwa tiada kasih sebesar kasih seorang nenek yang kini sedang kau dekati kepada seorang anak seperti aku. Aku harap Engkau membaca setiap rangkaian kata yang aku tulis.
Kepada Mu yang jaraknya kini tak jauh dari nenekku. Mungkin mereka sekelompok orang berbaju putih yang juga termasuk hambamu berkata bahwa nenekku tak akan lama lagi akan bertemu denganMu, tapi aku percaya kepadaMu bahwa takdirMu lebih indah daripada keputusan mereka.
Engkau Maha Mendengar, seorang nenek tua renta tak berdaya sedang berada di ruang yang tak seorangpun boleh menyentuhnya kecuali sekelompok orang putih itu. Ia sedang berjuang keras untuk menyanggupi takdirMu. Ia berbicara kepadaMu. Tuhan, tolong dengar bisiknya. Baik-baik.
Engkau Maha Tahu, terlalu banyak kenangan yang takkan bisa terhapus dari memori otakku sedari aku kecil hingga detik ini aku mengetik surat ini untukMu. Tak ada sedetik waktu dari dirinya yang jarum jam hentakkan untuk tidak memikirkanku. Cucunya. Ia yang tak pernah lupa untuk menghempaskan kata-kata pembangkit semangat saat Ia singgah ke rumah orangtuaku untuk bertemu diriku.
Engkau Maha Pencipta, terlalu banyak harapan-harapan indah yang sedang aku ukir untuk membelikan Ia satu senyuman yang akan berbunga di bibirnya. Senyuman yang akan Ia bawa hingga aku tua nanti.
Engkau harus tahu, Tuhan. Setiap ia mengucap salam untuk meninggalkan jejak kakinya di rumahku, selalu ke cium dan ku hisap wangi pipi dari kulitnya yang berhias oleh lipatan halus sisa usia yang Engkau berikan.
Engkau harus tahu, Tuhan. Setiap ia hendak pergi jauh ataupun sehabis menjemput rejeki yang diberikan olehMu, ia selalu menyelipkan beberapa lembar uang di saku bajuku. Tak banyak, Tuhan. Namun itu sanggup untuk mengisi celenganku yang suatu saat nanti akan kukembalikan kepadanya dengan jumlah berkali lipat dari ketulusannya.
Tuhan, telah aku tuliskan di dalam buku impianku untuk membawanya suatu saat nanti kepada impian yang sangat ia dambakan. Aku akan membawanya pergi untuk melihat hasil karya Mu yang luar biasa di bumi pertiwi ini. Aku ingin membawanya pergi mengelilingi Indonesia sebelum aku menerbangkannya menuju negara di sebrang.
Tuhan, telah aku tuliskan daftar nama yang akan pergi untuk menyaksikan aku memakai toga dan menerima buah hasil belajarku. Aku tahu kemampuannya melihat sudah berkurang, oleh karena itu aku telah menempatkannya di barisan terdepan agar ia mampu melihat dengan jelas wajahku yang berbinar dengan keharuan yang akan aku rasakan.
Tuhan, aku ingin ia melihat wajahku yang merona dan berseri saat penghulu dan calon suamiku kelak mengucapkan janji suci hingga akhir hayat itu. Aku ingin ia melihat betapa lucunya cicitnya yang nanti akan kuajari untuk mengucapkan kata “Emak” setelah ia bisa melafalkan namaku dan nama calon suamiku dengan baik.
Tuhan,
Suatu saat nanti, akan aku bisikkan satu kalimat ke telinganya dengan lembut,
“Mak, semua ini Puji lakukan untuk Emak.”
Tiada mata yg tak sembab di ruangan ini. Tuhan, sampaikanlah tiap doa kami yang tersublim menjadi tetes-tetes air mata ini ke langit.

Dari,
Seorang hamba yang menginginkan neneknya sembuh, agar ia bisa melihatnya lebih lebih lebih lama lagi.
The 40th Day of Her Funeral
Sadly missed along life's way,
quietly remembered everyday,
no longer in our lives to share,
but in my heart you are always there.
As you were you will always be, treasured forever in my memory.
Every moment of your life,
you lived to the fullest and brought so much joy to us.
You never complained when you were in pain.
Your enthusiasm, kindness, sweet spirit and pleasant personality won people in your surroundings from all over and all walks of life.
You will forever remain in my heart, grandma....
Deeply missed by your grandchild, and everyone who always loves you.
Who ever who reads this post, please pray for her.
I would like to express my heartfelt thanks and appreciation to all known and unknown friends who have prayed for her.
Thanks for your kind prayers, financial support, comforting messages, loves, expression of condolences and best wishes during her sickness, and please pray that, Hj. Aam Amanah may rest in peace. Amen.
I am deeply touched by your kindness and i am short of words to thank you all enough.
since 22 March, 2011.
Thursday, 28 April 2011
I am a lot missing you, grandma..
Alfatihah ...
Dear, grandma..
It's almost been 40 days since your funeral.
I actually never realize that you have already gone.
You are still here, dearest...
Here..
In my heart..
As always.
Dear, grandma..
I'm sorry for the tears that I can't fully hide in every time I read Yaasin and Fatihah for you..
It's just falling down.
Sorry for the watery eyes that I always show in every time I saw a moment where I and you also used to do together.
Sorry for the wet cheeks that I always make in every time I feel you are so close with me as I have never felt that close before.
Dear, grandma..
I actually can't move on to the reality that you have already gone.
Already gone..
You are the closest person ever I am comfortable with.
Ever...
Dear, grandma..
I do not know what should I talk about you.
I just miss you.
So much.
Tomorrow is your 40th day of your funeral.
I should give a movement.
I'll try my best not to cry over you.
Now,
I just want to say..
I always love you.
Forever.
With love,
Your lovely grandchild.
Thursday, 24 March 2011
I Miss You A Lot!
I feel her warmth. I know she's here. She never leaves me. Now, she is closer than she used to be when she was alive. She knows I miss her.
Now I can talk to her without knowing the time, because she's always beside me wherever I go. She always whispers something good to me.
It's done depending my self on her. Now it's time for her to count on me sending many prayers to her in her new place over there. Grandma :)
Wednesday, 23 March 2011
Her, her, and her
Tuesday, 22 March 2011
I Love You Grandma
Saturday, 19 March 2011
Teruntuk Tuhan yang jaraknya kini tak jauh dari nenekku
Tuhan, mungkin aku adalah seorang anak yang terkadang tak mendengarkan nasihat orang tuaku sepenuhnya. Namun percayalah Tuhan, bahwa tiada kasih sebesar kasih seorang nenek yang kini sedang kau dekati kepada seorang anak seperti aku. Aku harap Engkau membaca setiap rangkaian kata yang aku tulis.
Kepada Mu yang jaraknya kini tak jauh dari nenekku. Mungkin mereka sekelompok orang berbaju putih yang juga termasuk hambamu berkata bahwa nenekku tak akan lama lagi akan bertemu denganMu, tapi aku percaya kepadaMu bahwa takdirMu lebih indah daripada keputusan mereka.
Engkau Maha Mendengar, seorang nenek tua renta tak berdaya sedang berada di ruang yang tak seorangpun boleh menyentuhnya kecuali sekelompok orang putih itu. Ia sedang berjuang keras untuk menyanggupi takdirMu. Ia berbicara kepadaMu. Tuhan, tolong dengar bisiknya. Baik-baik.
Engkau Maha Tahu, terlalu banyak kenangan yang takkan bisa terhapus dari memori otakku sedari aku kecil hingga detik ini aku mengetik surat ini untukMu. Tak ada sedetik waktu dari dirinya yang jarum jam hentakkan untuk tidak memikirkanku. Cucunya. Ia yang tak pernah lupa untuk menghempaskan kata-kata pembangkit semangat saat Ia singgah ke rumah orangtuaku untuk bertemu diriku.
Engkau Maha Pencipta, terlalu banyak harapan-harapan indah yang sedang aku ukir untuk membelikan Ia satu senyuman yang akan berbunga di bibirnya. Senyuman yang akan Ia bawa hingga aku tua nanti.
Engkau harus tahu, Tuhan. Setiap ia mengucap salam untuk meninggalkan jejak kakinya di rumahku, selalu ke cium dan ku hisap wangi pipi dari kulitnya yang berhias oleh lipatan halus sisa usia yang Engkau berikan.
Engkau harus tahu, Tuhan. Setiap ia hendak pergi jauh ataupun sehabis menjemput rejeki yang diberikan olehMu, ia selalu menyelipkan beberapa lembar uang di saku bajuku. Tak banyak, Tuhan. Namun itu sanggup untuk mengisi celenganku yang suatu saat nanti akan kukembalikan kepadanya dengan jumlah berkali lipat dari ketulusannya.
Tuhan, telah aku tuliskan di dalam buku impianku untuk membawanya suatu saat nanti kepada impian yang sangat ia dambakan. Aku akan membawanya pergi untuk melihat hasil karya Mu yang luar biasa di bumi pertiwi ini. Aku ingin membawanya pergi mengelilingi Indonesia sebelum aku menerbangkannya menuju negara di sebrang.
Tuhan, telah aku tuliskan daftar nama yang akan pergi untuk menyaksikan aku memakai toga dan menerima buah hasil belajarku. Aku tahu kemampuannya melihat sudah berkurang, oleh karena itu aku telah menempatkannya di barisan terdepan agar ia mampu melihat dengan jelas wajahku yang berbinar dengan keharuan yang akan aku rasakan.
Tuhan, aku ingin ia melihat wajahku yang merona dan berseri saat penghulu dan calon suamiku kelak mengucapkan janji suci hingga akhir hayat itu. Aku ingin ia melihat betapa lucunya cicitnya yang nanti akan kuajari untuk mengucapkan kata “Emak” setelah ia bisa melafalkan namaku dan nama calon suamiku dengan baik.
Tuhan,
Suatu saat nanti, akan aku bisikkan satu kalimat ke telinganya dengan lembut,
“Mak, semua ini Puji lakukan untuk Emak.”
Tiada mata yg tak sembab di ruangan ini. Tuhan, sampaikanlah tiap doa kami yang tersublim menjadi tetes-tetes air mata ini ke langit.

Dari,
Seorang hamba yang menginginkan neneknya sembuh, agar ia bisa melihatnya lebih lebih lebih lama lagi.
Friday, 18 March 2011
Dear Cloudy Day
Friday, 11 March 2011
An improvement

A couple years ago, when I asked to my self 'when will you do Puasa Sunah Senin-Kamis regularly every week? When will you do Tahajud and Dhuha in each day regularly?', I always answered 'someday, when I am mature enough'
Now, my age is already 20, and I am still reluctant doing those things. What am I waiting for exactly?
Come on, Puji! It needs actions!
I have been doing Dhuha in each day since I go to the college. But you know, It's been very difficult to get up in the middle of the night to do Tahajud. Really difficult. I almost never do Tahajud even though I wake up for eating for fasting.
You know what happened then to me? I forced and forced and forced myself to wake up in the night. And it failed and failed and failed again, until two days ago, on Thursday, I finally could get up in the night for doing Tahajud while eating for fasting.
At that night, I could not stop smiling. I sent my thanks to Allah through my prayers. It was sooooo peaceful. I promise to my self, I will never leave this daily routine.
Alhamdulillah yaa Rabb.