Sunday, 5 June 2011

Profil Master Chef Indonesia




Master Chef Indonesia menjadi tontonan favorit saya kali ini. Saya memang suka makan dan saya juga suka sekali bereksperimen dengan masakan. Acara ini tayang setiap Sabtu dan Minggu dari jam setengah empat sore sampai dengan sekitar jam setengah tujuh malam. Acara ini merupakan adaptasi dari acara di luar negeri dengan judul yang sama yaitu Master Chef. Dinilai oleh ketiga orang juri. Di Master Chef Indonesia itu sendiri terdiri dari Chef Juna atau dengan nama lengkap Junior Rorimpandey, Chef Vendex Tengker atau biasa disebut Chef Vindex saja, dan satu-satunya Chef wanita yaitu Chef Marinka atau dengan nama lengkap Rinrin Marinka.



Nah, ini dia para pesertanya:

Sarwan (41 thn) Surabaya – Office Boy

Membuat orang lain tertawa dengan kepolosannya adalah keahlian lain yang dimiliki pria berusia 40 tahun ini selain memasak. Mulai belajar memasak sejak tinggal sendiri sebagai anak kost, pria yanng sehari-hari berprofesi sebagai office boy ini mengikuti MasterChef Indonesia untuk dapat mengubah nasib. Sarwan terbiasa memasak untuk rekan-rekannya di kantor, biasanya mereka akan mengumpulkan sejumlah uang dan memberikannya ke Sarwan untuk membeli bahan masakan. Laki-laki yang baru saja menikah ini mengaku bahwa masakan Indonesia adalah keahlian utamanya. Terbiasa dengan bahan seadanya, ia percaya bahwa kemampuannya berkreasi dengan bahan terbatas dapat menjadi salah satu keunggulan yang tidak dimiliki oleh kontestan lain.

Datang dengan dukungan penuh dari seluruh keluarga, rekan kerja hingga atasannya di kantor, Sarwan yang mengidolakan Farah Quinn ini ingin dapat membuktikan kepada semua orang yang pernah menghina bahwa melalui masakannya ia bisa menjadi seseorang yang berbeda. Ironisnya, hari dimana ia dinyatakan lolos menjadi slah satu kontestan adalah hari dimana rumah yang ia tempati dirampok orang. Karena itulah Sarwan datang ke MasterChef Indonesia membawa segudang impian untuk sang istri dan ibu tercinta yang ingin ia wujudkan lewat kelezatan hasil masakannya.

Tata (28 thn) Jakarta - Wiraswasta


Wanita bernama lengkap Duhita Cynthia Arsani ini merasakan ketertarikan terhadap dunia memasak semenjak Tata kecil tinggal bersama sang Eyang yang hobi dan ahli memasak. Selalu merasa tertantang dengan hal-hal baru, memasak kemudian menjadi salah satu hal yang ia eksplorasi. Single mother dari seorang putra berusia 6 tahun ini adalah seseorang yang tidak mudah menyerah dan sangat menikmati apapun yang ia kerjakan bersama sang anak. Membuka suatu usaha dengan sang Ibu, Tata rela meninggalkan usaha tersebut dan mengejar impiannya untuk dapat membuka sebuah restoran serta menjadi seorang MasterChef melalui kompetisi ini. Selain itu, tinggal jauh dari putra kesayangannya selama masa karantina pun menjadi salah satu pengorbanan yang siap ia lakukan.
Pernah bersekolah di Australia membuat Tata tidak hanya mahir membuat masakan Indonesia tapi juga mampu membuat masakan ala Western. Jenis masakan panggang (grill) menjadi salah satu jenis masakan yang sangat ia andalkan untuk dapat bertahan di MasterChef Indonesia. Tata menjalani kompetisi ini dengan santai dan menikmati semua proses yang ada. Baginya, selain kompetisi, MasterChef juga merupakan sebuah kesempatan untuk menambah ilmu serta tempat untuk mengukur diri, karena itulah ia menjalaninya dengan santai sambil tersu memberikan yang terbaik


Rahmi (22 thn) Padang - Mahasiswi


Kontestan asal Padang ini merupakan bungsu dari tiga bersaudara. Kuliah yang mengharuskannya tinggal seorang diri di Bandung membuat Ami, nama panggilannya, semakin kreatif dalam memanfaatkan bahan makanan yang ada. Hal yang sama ia lakukan pada saat audisi MasterChef di Bandung. Dengan bahan makanan yang terbatas, Ami berusaha membuat sebuah kreasi baru yang akhirnya berhasil mengantarkan ia sampai di Gallery Kitchen MasterChef.

Keluarga besar gadis yang sangat suka bermain uno dan bercanda dengan teman ini hampir semuanya bisa memasak. Di rumahnya di Padang, Rahmi terbiasa memasak untuk seluruh anggota keluarga. Keahlian lain yang ia banggakan adalah kemampuannya berbahasa Prancis dengan baik, menari latin serta menjadi seorang presenter. Jika ditanya apa mimpi yang ingin ia wujudkan, maka mahasiswi Univ. Pendidikan Indonesia ini akan menjawab dengan lantang bahwa ia ingin bisa membuka restoran Indonesia miliknya di Prancis. Selain keluarga, nama lain yang menjadi inspirasi serta motivasinya dalam meraih mimpi adalah Bob Sadino, Wiliam Wongso, Bondan Winarno, Windy Lee dan Chef Master Rinrin Marinka.

Kevin (18 thn) Jakarta - Pelajar


Tiga kata paling tepat untuk menggambarkan Kevin ialah cheerful, ambisius dan talkative. Cita-citanya untuk menjadi seorang billionaire mendorong ia mencoba banyak hal yang berhubungan dengan bisnis. Pertemuannya dengan dunia masak dimulai saat ia mencoba membuat chocolate chips cookies untuk dijual. Mendapatkan respon yang sangat positif, Kevin pun kemudian mempelajari banyak ragam masakan secara otodidak. Keluarga, buku, televisi dan internet menjadi guru terbaik guna mengembangkan kemampuannya.

Kontestan termuda di MasterChef Indonesia ini termasuk seorang remaja yang memiliki banyak teman dan berbeda dengan remaja kebanyakan. Di usia yang masih sangat muda, ia telah tahu persis apa yang ia inginkan untuk masa depannya. Menjadi seorang businessman di duni kuliner, menerbitkan buku dan menjadi pemenang MasterChef Indonesia hanyalah beberapa dari sekian banyak goal yang telah ia buat untuk hidupnya. Kevin bersedia meninggalkan ujian nasional demi dapat berada di kompetisi ini. Keputusan itu tidak ia buat dengan sembarangan, melainkan karena ia yakin dengan kemampuan dan teknik memasak yang ia miliki. Mimpinya yang terbesar adalah menjadi seorang founder untuk sebuah brand restaurant khusus Indonesia yang tersebar ke berbagai belahan dunia dan menjadi sepopuler restoran Nobu.

Marcella (29 thn) Bogor – Pengusaha Aksesoris


Pancake yang gosong adalah karya pertamanya dengan sepupu-sepupu. Kala itu ia masih SD dan belum mengerti betul tentang teknik memasak. Masakan kedua yang ia buat lebih kompleks yaitu somay. Kontestan yang akrab dipanggil Cella ini tidak akan ada habisnya menceritakan tentang hasrat dan passionnya terhadap memasak. Buat Cella, memasak adalah art, bagian dari hidup yang harus ia lakukan sestiap hari. Ia tidak pernah bosan mencari hal-hal baru untuk diolah dan selalu merasa tertantang untuk membuat orang lain menyukai makanannya.
Dikelilingi oleh orang-orang yang memang mencintai dunia kuliner, Marcella merasa bahwa dulu sang Ibu selalu membuatkannya makanan yang aneh tapi enak. Sehingga setelah dewasa ia pun semakin tertarik untuk belajar membuat hal yang sama. Sebagian besar masakan Cella merupakan resep yang ia buat sendiri, salah satunya adalah Nasi Ayam yang merupakan signature dish-nya. Sangat mengagumi Bara Pattiradjawane dan William Wongso karena cara memasak mereka yang penuh semangat dan passion. Marcella percaya bahwa masakan merupakan pancaran perasaan orang yang membuat.
Ia tidak menyangka bahwa akhirnya bisa masuk ke dalam gallery kitchen MasterChef. Mendaftar di detik-detik terakhir, awalnya Cella sempat tidak yakin dapat menjadi salah satu kontestan. Namun sekarang setelah menjadi kontestan, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan akan memberikan yang terbaik.

Fero (25 thn) Toli Toli – Desainer Interior


Wanita bernama lengkap Feronica Ang ini memiliki seorang Ibu dan kakak perempuan yang gemar memasak. Buat Fero, masakan sang Ibu adalah yang terbaik. Apapun yang beliau masak bisa terasa enak dan tidak membosankan. Hal ini kemudian mendorong Fero untuk juga mencintai masak memasak. Sarjana Desain Interior ini telah lama menjadi penggemar reality kompetisi MasterChef versi US dan Australia. Karena itu ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk dapat menjadi bagian dari kompetisi ini saat melihat informasi tentang audisi MasterChef. Makanan yang ia bua pun tidak main-main, Fero terbiasa memasak beragam macam makanan dari culture dengan rasa yang berbeda-beda. Memasak adalah passion yang serius ia pelajari dan selalu menimbulkan sensasi bahagia di dirinya.
Cara Gordon Ramsay memasak dan management skill yang ia miliki membuat Fero ingin sekali bertemu dengan idolanya tersebut. Banyak hal baru tentang dunia kuliner yang masih ingin dan perlu ia pelajari sebelum menyandang gelar MasterChef apabila menang nanti. Untuk itu ia dengan rajin berbincang kepada kontestan lain, bertukar ilmu, membaca resep hingga mengandalkan insting untuk menciptakan hal baru dalam setiap masakannya. Apabila berhasil menang nanti, Fero ingin dapat mewujudkan impiannya untuk membangun sebuah restoran dengan konsep interior yang special. Dengan begitu dua bagian dalam kehidupannya dapat dijadikan satu kesatuan

Dudy (59 thn) Surabaya – Direktur


Menjadi anak ke empat dari 12 bersaudara memberi banyak keuntungan untuk kakek dari 5 orang cucu ini. Besarnya jumlah keluarga Pak Dudy membuat sang Ibu harus meminta bantuan anak-anaknya saat memasak dan disitulah Pak Dudy mulai mengenal dan mencintai dunia kuliner. Meskipun sudah tergolong berumur, pak Dudy tidak pernah mengubur mimpinya untuk memiliki restoran dan menjadi terkenal karena masakan buatannya. Spesialisasi Pak Dudy adalah makanan jawa dan peranakan melayu. Begitu banyak kreasi masakan sudah ia ciptakan dan ia ajarkan kepada anak serta menantu.

Pak Dudy dikenal sebagai seseorang yang suka bercanda dan mudah bergaul dengan siapa saja. Meskipun menjadi kontestan dengan usia paling tua, namun beliau tidak kesulian untuk membaur dan bahkan bertindak layaknya seorang ayah di karantina. Selain mengikuti MasterChef Indonesia, hal berani lain yang pernah ia lakukan ialah berhenti dari pekerjaannya dan membangun sebuah perusahaan sendiri dari nol. Buah kerja keras Pak Dudy terbayar sudah dengan perkembangan perusahaan yang dimilikinya saat ini. Karena itulah kini saat yang tepat untuknya mengejar mimpi lain yaitu menjadi seorang chef professional.

Agus (25 thn) Banjarmasin - Guru


Kebiasaannya membantu sang Ibu berjualan di warung kala kecil dulu membuahkan kemampuan masak yang sekarang ia miliki. Pria asal Banjarmasin ini kemudian belajar memasak secara otodidak dan berhasil mempelajari berbagai macam menu di dapur rumah nya sendiri. Berprofesi sebagai guru dan secara khusus dating dari Banjarmasin ke Surabaya demi mengikuti audisi MasterChef Indonesia, Agus memang sangat percaya diri dengan kemampuan, pengetahuan serta teknik memasak yang ia punya.
Bercita-cita untuk menjadi seorang cooking entertainer, Agus menjalani seluruh proses kompetisi ini dengan fokus dan goal yang jelas yaitu keluar sebagai seorang MasterChef. Wisata kuliner menjadi salah satu ajang pembelajaran yang selalu ia lakukan guna memperkaya pengetahuannya tentang masakan. Agus adalah seorang pria yang tahu persis apa yang ia inginkan. Karena itulah ia merasa bahagia mendapatkan dukungan 100 % dari seluruh keluarga untuk bisa berada di MasteChef. Untuknya sekarang ini, kompetisi MasterChef adalah jalan atau kesempatan emasnya untuk meraih cita-cita. Penggemar berat Rudi Choiruddin dan Farah Quinn ini mengaku bahwa selain masakan Indonesia dan internasional, kue juga menjadi salah satu masakan unggulan miliknya yang patut dirasakan oleh para Chef Master.


Albie (36 thn) Bandung – Manager Mini Market


Ayah dari 2 anak ini merasa mendapatkan kemampuan memasaknya dari sang Ibu. Ia telah menyukai segala hal berbau memasak sejak kelas 3 SD namun baru merasa bisa mengolah bahan saat duduk di bangku SMA. Melakukan berbagai percobaan dalam meracik bumbu dan bahan menjadi salah satu kegemarannya untuk mengasah kemampuan memasak tersebut. Hobinya membaca buku resep pun menjadi salah satu senjata andalan dalam kompetisi reality MasterChef ini, karena membuat ia menguasai beragam jenis masakan yang berbeda.
Curtis Stone dan Edwin Lau adalah dua orang Chef yang sangat ia kagumi. Laki-laki pecinta motor besar ini mengaku bahwa memasak merupakan salah satu caranya untuk dapat mengungkapkan emosi dan berkomunikasi. Lulusan Universitas Parahyangan ini adalah sosok seorang ayah yang sangat mencintai keluarganya, karena itulah kompetisi ini menjadi salah satu hal yang sangat berarti. Mimpinya untuk dapat menjadi ikon baru di dunia kuliner Indonesia membuat Albie harus siap meninggalkan keluarganya selama berbulan-bulan untuk di karantina dan memberikan yang terbaik dalam setiap masakan agar bisa keluar sebagai seorang pemenang.

Teguh (38 thn) Surabaya - Pengrajin


Pria asal Surabaya ini selalu terlihat tenang dan tidak banyak bicara. Keahliannya dalam membuat handicraft telah membawanya menjadi seorang eksporter handicraft yang sukses. Usaha handicraft yang telah ia tekuni sejak tahun 1996 ini belum pernah sekalipun ia tinggalkan dalam waktu yang lama. Akan tetapi semangat kompetisinya langsung terpacu saat ia mengetahui adanya program MasterChef Indonesia. Hal itu terjadi karena memasak adalah salah satu hal yang juga ia kuasai selain membuat handicraft.

Belajar memasak dari sang Ibu yang sangat ia kagumi, Teguh sebenarnya tidak pernah memiliki obsesi yang terlalu tinggi dalam bidang kuliner. Namun dorongan semangat serta dukungan yang besar dari seluruh keluarga serta teman membuatnya kemudian memutuskan untuk mengikuti kata hati dan berusaha berekspresi melalui masakan. Berada di dapur selalu membangkitkan suasana hati yang menyenangkan untuk pria yang mengidolakan Martin Yan ini. Sejak kelas 3 SD ia telah belajar memasak secara otodidak. Menciptakan kreasi masakan baru merupakan salah satu cara yang ia lakukan untuk mengembangkan kemampuannya. Selain itu, ia juga menjadi juru masak sehari-hari untuk keluarganya. Karena itulah ia optimis dapat bertahan di MasterChef Indonesia.

Niken (57 thn) Jakarta – Konsultan Perusahaan


Tumbuh dewasa di lingkungan keluarga yang suka makan dan memasak membuat Ibu Niken secara mudah mendapatkan kecintaannya terhadap dunia kuliner. Anak dan sang suami adalah penggemar tetap semua masakan yang ia buat. Masakan Indonesia menjadi salah satu keahlian yang ia banggakan, menurutnya kompleksitas bahan dan teknik memasak pada masakan Indonesia membuatnya tidak mudah untuk dikuasai. Ibu dari Sabrina yang masih berusia 1 tahun 7 bulan ini awalnya merasa sangat berat untuk berada di karantina selama mengikuti kompetisi karena ia belum pernah sekali pun meninggalkan sang putri. Namun dukungan dari sang suami dan keinginan untuk membanggakan almarhumah anak pertamanya yang menyukai semua masakannya kemudian menjadi motivasi tersendiri.

Ibu Niken menguasai berbagai teknik memasak dan membuat kue. Hal tersebut semuanya ia dapatkan dari belajar sendiri melalui buku atau internet. Ia adalah sosok ibu yang lembut namun tidak mudah menyerah. Dalam MasterChef Indonesia ia siap membuktikan bahwa walaupun terlihat tanpa beban dalam berkompetisi, wania yang bekerja sebagai konsultan sebuah perusahaan telekomunikasi ini akan selalu memberikan yang terbaik dan percaya diri akan membuat Chef Master memilihnya hingga akhir kompetisi.

Inggrid (32 thn) Jakarta – Wedding Organizer


Di masa anak-anak, Inggrid tidak bisa memasak sama sekali. Pengalaman harus hidup seorang diri di Malaysia saat kuliah S1 lah yang kemudian mau tak mau membuatnya harus memasak. Dari sebuah keharusan, memasak kemudian menjadi hal yang ia sukai dan kuasai dengan baik. Tinggal di Belanda dengan sang Suami kemudian menambah kemampuannya dalam memasak karena Inggrid selalu memasak berbagai macam makanan khas Indonesia untuk mengobati rasa rindu tanah air. Dimulai dari memasak untuknya dan suami, masakannya kemudian juga disukai oleh sesama WNI yang tinggal di Belanda saat itu.

Sejak saat itu Inggrid yang memiliki usaha wedding organizer bersama sang Ibu kemudian bercita-cita untuk membuka sebuah restoran Indonesia di berbagai negara agar WNI yang tinggal disana bisa melepaskan rasa rindu tanah air serta mempopulerkan masakan khas Indonesia ke seluruh dunia. Selain itu, keinginannya untuk menjadi celebrity chef dan menulis buku resep kemudian mendorongnya untuk mengikuti MasterChef. Ibu dari tiga orang putra ini yakin bahwa dari seorang amateur cooker ia bisa berkembang dan memiliki kualitas untuk menjadi seorang MasterChef. Terlebih dengan pribadinya yang percaya diri dan tidak mudah menyerah, ia yakin dapat memenangkan reality kompetisi ini.

Priscil (22 thn) Bandung – Model


Bercita-cita untuk bisa kuliah di Le Cordon Bleu suatu hari nanti, Priscil mendapatkan kecintaannya akan dunia kuliner melalui sang Ibu dan Nenek. Ia dikelilingi oleh keluarga yang tidak hanya suka memasak tapi juga merasakan makanan enak yang selalu berbeda. Dalam setiap pertemuan keluarga, Priscil biasanya mendapatkan tugas untuk memasak satu jenis masakan tertentu untuk dihidangkan. Selain bertanya pada sang Ibu, resep-resep unik Priscil dapatkan dari kreasi dan keberaniannya dalam menciptakan hal-hal baru. Jika sedang tidak memasak, hal lain yang ia suka lakukan adalah merias orang lain.

Lewat MasterChef Indonesia, Priscil ingin dapat menjadi seorang Chef professional dan memberitahu kepada semua orang bahwa Chef bisa menjadi salah satu pilihan profesi yang menjanjikan. Kakak dari seorang adik perempuan ini sangat takut dengan kegagalan. Untuknya semau hal lebih baik telah direncanakan sehingga kemungkinan untuk gagal dihilangkan seminimal mungkin. Ia siap untuk berkompetisi dengan peserta lainnya dan menunjukkan bahwa dari ke tiga puluh kontestan yang ada, ia merupakan salah satu yang terbaik.


Hilman (38 thn) Bandung - Wiraswasta


Mendapatkan pujian dari seseorang yang merasakannya masakannya merupakan hal menyenangkan untuk pria yang biasa dipanggil Iman ini. Dengan kedua orang tua yang suka memasak, Hilman sangat mudah belajar memasak sejak masih kecil. Masakan pertama yang ia buat adalah telur goring saat masih duduk di bangku SD dulu. Hilman adalah seorang pribadi tertutup yang tidak mudah dipengaruhi. Jika berada pada sebuah grup, maka ia lebih baik menjadi pendengar yang baik ketimbang harus ikut meramaikan pembicaraan dengan pendapatnya.

Hilman menyukai saat-saat ia diajarkan memasak oleh sang Ibu. Salah satu masakan yang diajarkan ialah Rabek, sebuah masakan berbahan daging dan jeroan kambing. Hal lain yang Hilman kuasai selain memasak ialah bermain piano. Baginya memasak sudah mendarah daging dan menjadi bagian penting dalam hidup. Karena itulah ia mengikuti kompetisi MasterChef. Selain untuk mencari pengalaman dan mewujudkn mimpi, hal ini juga menjadi salah satu ajang pembuktian kepada sang Ayah bahwa ia mampu berhasil melalui bidang kuliner.

Hendry (31 thn) Lampung – Guru Privat


Sejak umur 9 tahun pria yang menyukai gaya hidup sehat ini sudah suka memasak. Ia sangat percaya diri dengan kemampuan memasak yang ia miliki. Meskipun tinggal di kota kecil di Lampung,, hasrat Hendry untuk terus mengembangkan kemampuan memasaknya tidak pernah berhenti. Hampir semua jenis makanan telah ia coba buat. Kalaupun memang ada kendala yang ia alami ialah karena terbatasnya bumbu dan bahan-bahan yang tersedia. Membuat bangga sang Mama yang menjadi inspirasi serta guru memasak Hendry adalah motivasinya yang terkuat untuk memenangkan MasterChef Indonesia.

Pria yang pernah mendapatkan jawaban dari Jamie Oliver melalui akun twitter nya ini merasa yakin bahwa ia bisa memenangkan kompetisi ini. Sejak SMP Hendry memang telah sering dijadikan wakil sekolahnya dalam kompetisi memasak. Berbagai cara ia lakukan agar dapat terus mendapatkan pengetahuan baru tentang dunia kuliner diantaranya selalu mencoba resep baru, mengkombinasi bumbu yang ada, banyak membaca resep hingga bertanya kepada orang lain yang juga bisa memasak. Nama-nama seperti Jamie Oliver dan Gordon Ramsay adalah beberapa Chef yang dijadikan panutan oleh guru privat matematika dan bahasa Inggris ini. Di tengah kontestan lain, Hendry termasuk kontestan yang dianggap saingan paling berat karena banyaknya pengetahuan kuliner yang ia kuasai.

Aditya (26 thn) Jakarta - Wiraswasta


Menjalani hidup apa adanya adalah motto dari pria kelahiran Jakarta 26 tahun yang lalu ini. Pria yang terkesan santai ini memiliki dua cinta dalam hidupnya yaitu memasak dan olahraga parkour. Dua hal ini tidak bisa dilepaskan karena telah menjadi bagian penting dari dirinya. Ia adalah salah satu pendiri komunitas Parkour di Indonesia. Saking cintanya ia pada olahraga tersebut, ia juga menjalin persahabatan dengan Mathew Campbell (penemu parkour) dan telah menganggapnya menggantikan figure ayah.
Pecinta travelling yang telah pergi ke hampir seluruh benua di dunia ini awalnya mendaftarkan diri di MasterChef setelah dibujuk oleh teman-temannya karena ia bukanlah orang yang menyukai kompetisi. Namun bisa berada di Gallery Kitchen MasterChef nyatanya belum bisa ia percayai hingga kini. Adit adalah seseorang yang bernai mengeksplorasi makanan dan memakai berbagai macam bahan berbeda. Mempelajari masak secara otodidak, ia ingin mewujudkan impiannya unutk membangun sebuah restoran yang hangat dan dekat dengan pembeli. Menurutnya, semua orang pasti memiliki kemampuan memasak hanya saja tidak semua mau dan mampu mendalami kemampuan tersebut.
Pria yang sedang menjalani bisnis bersama seorang teman ini mengaku bahwa mengikuti proses karantina merupakan salah satu hal terberat karena dirinya tidak terbiasa berlama-lama di satu tempat. Akan tetapi demi mewujudkan mimpi, ia berjanji pada diri sendiri untuk memberikan yang terbaik.

Sasha (37 thn) Jakarta - Insinyur


Pakaiannya yang selalu hitam atau berwarna gelap membuat ahli IT ini selalu stand out di antara kerumunan kontestan. Gayanya yang ceplas ceplos juga membuat orang banyak tidak percaya bahwa ia suka memasak. Aslinya, Sasha Ali yang mendapatkan kegemaran memasak dari sang Ibu yang pernah memiliki kantin ini sangat suka makan dan memasak. Kepribadiannya pun terbuka dan penuh optimisme, jauh dari kesan gelap yang terpancar dari warna pakaiannya.
Sasha mengaku tidak bisa jauh dari internet. Pekerjaannya sebagai seorang IT dan pembuat website membuatnya harus terkoneksi 24 jam dengan internet. Karena itu masa-masa awal di karantina adalah masa-masa yang paling berat karena ia sama sekali tidak diijinkan untuk membuat internet. Pengalaman lain yang juga memperkaya kemampuan masaknya ialah ia telah berkeliling ke lebih dari 20 negara. Di setiap negara yang ada, Sasha tidak lupa untuk menyempatkan diri menikmati hidangan local demi mencari pembelajaran baru. Ia mengikuti MasterChef karena suka makan dan memasak makanan enak. Wanita pecinta rafting serta panjat tebing ini memang unik, ia suka mencari inspirasi di tempat tenang bahkan yang paling ekstrim sekalipun seperti kuburan.

Lucky (26 thn) Malang – Pengusaha Furniture


Pertama kali melihat neneknya sedang memasak dan langsung tertarik, namun sang Mama lah yang kemudian berjasa mengajarkan Lucky banyak hal tentang masak memasak. Laki-laki penggemar sop buntutm sambal gorenag ati dan kerupuk kulit ayam ini belajar memasak berbagai macam makanan yang ia sukai karena sempat menetap di luar negri. Selama di negri orang, Lucky belajar memasak secara otodidak demi memuaskan keinginannya memakan makanan kegemarannya tersebut. Dalam keluarga, selain berperan sebagai seorang ayah dan suami, Lucky juga berperan sebagai seorang Chef yang menyiapkan makanan untuk anak dan istrinya.

Meski mendapatkan dukungan dari banyak teman, namun ayah Lucky tidak menyetujui keputusannya mengikuti kompetisi MasterChef. Ini adalah hal paling berani yang pernah ia lakukan, Lucky bisa dikatakan mengorbankan banyak hal untuk berada disini mulai dari pekerjaan, keluarga hingga hubungannya dengan sang Ayah. Namun, hal tersebut ia justru semakin tertantang dan semakin ingin membuktikan bahwa ia bisa membangun karir di dunia kuliner dan keputusannya mengikuti kata hati tidaklah salah

Santiana (27 thn) Yogyakarta – Sales Komputer


Sempat harus berhenti kuliah saat usaha keluarganya terkena imbas dari gempa Jogja idak lantas membuat Santi, panggilan akrab Santiana, menjadi pemurung dan putus asa. Ia menggambarkan dirinya sebagai seorang wanita yang senang berkompetisi, selalu positif dan tidak mudah menyerah. Hal ini terbukti dari kemampuannya untuk terus melangkah seusai tragedy gempa bumi Jogja beberapa waktu lalu tersebut.
Terlahir di keluarga pembuat roti membuat Santi tidak asing dengan dunia kuliner. Kemampuannya menjadi demikian kuat setelah ia menikah dan berusaha menyuguhkan masakan terbaik untuk sang suami. Dari situlah ia mulai menyadari bahwa semua orang menyukai dan memuji masakannya. Mengikuti MasterChef Indonesia menurut Santiana merupakan kesempatan emas untuknya mengembangkan potensi tersembunyi yang ia miliki yaitu memasak. Ia siap berkompetisi dengan 29 kontestan lainnya dan mengetur strategi agar dapat menjadi pemenang. Keseriusan dalam kompetisi ini ia tunjukkan melalui komitmennya dengan meninggalkan pekerjaannya demi MasterChef Indonesia.

Allen (33 thn) Surabaya – Kontraktor


Berbagai macam pekerjaan telah dicoba oleh wanita berusia 33 tahun ini sebelum menjadi kontraktor. Akan tetapi jauh di dasar hatinya, ia tahu bahwa ia selalu suka berada di dapur dan memasak. Dibesarkan oleh nenek, ayah dan ibu yang suka memasak, Allen dengan mudah mempelajari berbagai jenis makanan terutama makanan khas pulau Jawa. Keahlian itulah yang membuatnya yakin bahwa ia pantas berada di Gallery Kitchen MasterChef. Kepribadiannya yang hangat membuat orang lain mudah merasa nyaman dan berbagi cerita dengan Allen. Dari sekian banyak cerita yang ia dengarkan, Allen selalu berusaha untuk tidak lupa mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain tersebut.
Terbiasa berada di bawah tekanan membuat Allen merasa optimis dirinya akan bisa melalui semua tantangan yang diberikan. Sama seperti pecinta kuliner lainnya, Allen berangan-angan untuk bisa memiliki sebuah program memasak sendiri apabila ia nanti menjadi pemenang MasterChef Indonesia.

Thursday, 26 May 2011

From Nothing To Something

Bermula Dari Hobi




Beberapa bulan yang lalu, saya hanya seorang penikmat kuliner biasa. Saya senang sekali menyicipi makanan-makanan unik di Bandung. Keliling-keliling dan mencari-cari info mengenai tempat makan asyik di Bandung, dari yang mahal sampai yang murah, dari restoran mewah sampai tempat makan pinggiran dengan hanya menggunakan gerobak.



Saya adalah seorang mahasiswa yang tinggal di daerah Ciwaruga, Setiabudhi pedalaman. Saya asli dari Bekasi. Semenjak SMA, saya memang selalu diajak makan di tempat-tempat berbeda oleh pacar saya dahulu. Hingga pada akhirnya saya masuk kuliah, saya selalu mengajak pacar saya yang sekarang untukk menyicipi makanan-makanan di Bandung. Berawal dari ajakan, sekaranf justru saya yang selalu menjadi pengajak :p




I'm a Lucky Girl, a Quiz Catcher



Beruntungnya saya menemukan akun @kuliner_bandung. Semenjak saat itu, tempat atau makanan enak yang saya temukan selalu saya posting di akun twitter tersebut. Dari followers mereka sejumlah 2.000, sampai saat ini yang dimana followers mereka sudah mencapai 20.000, saya tetap setia dengan akun itu.Saya pun mmendapat informasi mengenai tempat atau makanan enak yang belum saya temukan yaitu dari akun tersebut. Sampai-sampai, si admin akun tersebut kenal sekali dengan saya dan terkadang selalu mempromosikan akun twitter saya kepada followersnya untuk mendapatkan info mengenai kuliner dari saya. Suatu hari, dimana hari sudah berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Sang admin @kuliner_bandung pun sekarang menjadi sahabt dekat saya.



Semenjak saya kuliah, saya selalu mengikuti kuis-kuis yang sering diadakan di statsiun radio atau di twitter. Alasan saya hanya satu, irit. Hehehe. You know how it feels to become the college student, apalagi anak kosan :p Saya selalu mengikuti kuis-kuis itu agar bisa mendapatkan uang jajan tambahan ataupun tiket nonton bioskop gratis untuk pacar saya. Fortunately, setiap saya ikut kuis, saya selalu menjadi pemenang. Hmm.. tidak semua sih, tapi 8 dari 10 saya pasti menang. (Saya pernah memposting hal ini sebelumnya. Cek postingan sebebelumnya). Dari beberapa kuis yang saya ikuti, saya memenangkan kuis yang diadakan oleh Bandung Taxibike. Pada saat itu, saya terpilih menjadi pengirim testimoni terbaik dan saya mendapatkan makanan yang disponsori dari Cuanki Hotplate Darakembar dan juga keripik maicih. Sejak saat itu, pemilik Darakembar dan juga Bandung Taxibike menjadi teman saya. Karena pada saat itu, mereka meng-invite pin bbm saya dan akhirnya menjadi teman di bbm.




Di bbm, Display Picture (DP) yang sering saya tampilkan adalah foto-foto makanan yang saya foto sendiri pada saat saya makan, ataupun foto saya sendiri yang sedang menikmati makanan. Yah.. it's all about foods. Tak jarang pemilik Darakembar itu menyapa saya dan mengomentari DP saya atau hanya sekedar bertanya "itu beli dimana? Kayaknya enak". Semenjak saat itu, kita sering saling sapa.



The Bandung Culinary Entrepreneur Community




Saya memiliki dua akun twitter pada saat itu. Saya pernah menjadi admin di satu akun twitter. Akun tersebut saya buat untuk menjadi pusat saling berbagi mengenai info kuliner di Indonesia. Saya menamakan akun tersebut sebagai 'Sindikat Kuliner'. Beberapa hari kemudian, pemilik Darakembar itu menyapa saya. Ternyata ia ingin mendiskusikan suatu hal yang agak serius. Hingga pada akhirnya saya mengadakan pertemuan dengan ia danteman-temannya. Yaa.. mereka adalah komunitas para pengusaha kuliner di Bandung. Ungkap mereka, mereka sebelumnya hanya mendirikan suatu komunitas kuliner biasa hingga pada akhirnya mereka berniat untuk mendirikan komunitas ini secara lebih serius dengan meng-eksiskan dengan membuat suatu akun bersama yang nantinya akan dikelola oleh seorang admin. Pada saat mereka akan membuat akun, mereka kaget ternyata nama dari 'Sindikat Kuliner' tersebut sudah dipakai oleh seseorang. Akun tersebut memang akun saya karena following pada akun tersbut hanya ada 1, akun twitter pribadi saya yang bernama @pujiananurul. Melihat hal tersebut, pemilik Darakembar yang juga pendiri komunitas kuliner di BAndung sekaligus orang yang kenal dengan saya, mempertemukan saya dengan anggota pengusaha kuliner yang lain.



Inti dari pertemuan tersebut yaitu mereka menginginkan kerjasama antara pengusaha-pengusaha kuliner di Bandung dengan saya yang nantinya akan ditugaskan menjadi bagian media promo yang menjalankan promo di twitter. Saya menggunakan akun twitter yang saya buat dengan nama 'Sindikat Kuliner' tersebut dan menjalankan akun tersebut atas nama komunitas kuliner di Bandung.



Semenjak saat itu saya menjadi seorang admin aktif di akun @sindikatkuliner tersebut.



From Nothing to Something



Anggota pengusaha kuliner dari Sindikat Kuliner ini ada sekitar 30 Brands.Brands tersebut diantaranya adalah:



1. Redsdipo, restoran bawal bakar


2. Bebek Van JAva


3. Bober Cafe


4. Rm. Legoh


5. J&C Cookies


6. Bebek Garang


7. Boloe Kodja


8. Cuanki Darakembar


9. Maio 'Green' Burger


10. Mie Ayam Popo


11. Baso Tahu Mang 4L4Y


12. Kuma Ramen Joint


13. Sanade Resto


14. Pindang Palembang 'Batara'


15. Yuky Penkeik


16. Maicih


17. Cafe Foodcort Serba Rame


18. Surabi Arab Ternate


19. Bakmi Jowo DU67


20. Pempek Lopek


21. Braga Cafe & Craft


22. Dapur Sakha + Bebekku


23. Keripik & Kerupuk Tjap Menak


24. Minuman kacang ijo 'Magic Bean'


25. Makaroni 'Mokoronoy'


26. Cireng Online


27. Mr. Komot


28. Ladifa Cookies


29. Keripik Bawang


30. Kebab 'Kebablazan'



Ya.. Saya adalah satu-satunya orang yang tidak mewakili satu brand pun disini. Selain itu, saya juga satu-satunya orang yang masih menyandang predikat mahasiswa. Dalam hal ini, saya sama sekali tidak merasa minder. Saya bangga sekali kepada mereka para pengusaha kuliner di Bandung. Mereka adalah orang-orang hebat yang perjuangannya sangat luar biasa sekali. Setiap ada pertemuan, saya selalu hadir dengan sangat antusias. Saya memang terkadang bukan orang yang banyak berbicara atau mengambil peran utama di dalam forum tersebut, tetapi saya sangat menikmati obrolan di forum yang didiskusikan. Banyak sekali yang saya pelajari dari mereka. Saya pun sangat senang bisa membantu mereka mempromosikan usaha mereka melalui twitter yang saya admin-kan.Bagi saya, uang bukan merupakan prioritas yang paling penting. Hal terpenting adalah pengalaman dan juga penyalur hobi. Saya memang socail media network addict dan writing lover. Saya senang menulis, that's why the owner of Darakembar chose me.



Dari ketiga puluh brands di atas, pasti ada yang kalian tahu. Yaa.. usaha mereka bukan usaha biasa. Kebanyakan dari mereka adalah usaha-usaha yang besar yang sudah dikenal oleh banyak orang Bandung. Maicih dan Bober Cafe misalnya.Di forum inilah saya berkutat. Bayangkan, saya yang awalnya hanya penikmat dari produk-produk dari usaha mereka, sekarang saya banyak bertemu dengan pemilik-pemiliknya langsung.



Saya tidak peduli seberapa excitednya saya jika saya mengungkapkan hal ini. Hehehe. Jujur saya memang sangat merasa bangga bisa satu komunitas dengan para pekerja keras seperti mereka. Bagaimana tidak, kuliner adalah bidang yang paling saya mintai.



Dari hal ini, saya mengenal banyak orang dan bertemu orang-orang baru. Saya tidak hanya bertemu dengan pengusaha kuliner di Bandung, saya juga masuk ke dalam komunitas AdminBDGunite yang juga bekerja sama dengan TwittLandBDG. Saya sering bertemu dengan para pemilik akun sosial dan kreatif di Bandung, seperti admin dari @infobandung, @kumahaaingweh, @kebodoranhidup, dan lain-lain. Mereka adalah orang-orang hebat karrena kekreatifitasannya di mata saya. Bukan hanya itu, kegembiraan lain adalah saat mereka memfollow akun twitter pribadi saya. Mereka yang dahulu saya anggap 'selebtwit', ternyata sekarang mereka teman dekat saya dan mereka ada di list followers saya. Hehehe. It's such a silly thing, but it means a lot for me :p



Now, I am a person who takes an improtant role model :)


Saturday, 21 May 2011

Thanks Kak Rahne


Malam itu adalah hari ke-40 sang nenek tercinta. Saya me-repost kembali puisi untuk nenek di blog ini. Entah kenapa saya ingin kak Rahne juga bisa membaca tulisan saya. Kak Rahne adalah orang yang saya kagumi di twitter. Kata-katanya indah dan inspiratif sekali. Menurut saya, ia adalah seorang 'selebtwit' yang asik ;) Akhirnya saya mention ia. Ternyata, nenek kak Rahne juga meninggal dalam bulan yang sama dengan nenek saya. Malam itu saya jadi tambah terharu.

Di Belakang Layar Pembuatan Cerita 'Pesantren'


Pada malam itu, Kamis malam, tanggal 19 Mei 2011, Bang Alex (@aMrazing) sedang membahas masalah mengenai pengalaman di pesantren. Ia membuka suatu topik di Timelinenya mengenai pengalaman para followers yang pernah tinggal di pesantren. Saya sangat tertarik. Saya posting beberapa tweets kepadanya.

Itu memang kali pertama saya menveritakan pengalaman saya di pesantren melalui tulisan. Banyak sekali pengalaman seru selama saya di pesantren. Saya tinggal di pesantren selama kurang lebih 8 tahun. Saya mencari pengalaman berharga, tidak sepenuhnya mencari ilmu. Karena lihatlah saya sekarang. Mungkin kalian tidak akan mempercayai bahwa saya pernah tinggal di pesantren selama itu. Hehehe. Saya orang biasa kok. Bukan uztadzah. Tapi sampai sekarang saya tetap menuntut ilmu di pengajian di pesantren di dekat rumah.

Nah, kebetulan saya juga ingin menuangkan cerita dan pengalaman saya di masa itu ke dalam bentuk tulisan. Alhasil, saya menerima tawaran Bang Alex untuk berbagi cerita. Kebetulan ia sangat membutuhkan penjelasan umum mengenai kehidupan di pesantren karena ia sedang membuat sinetron tentang itu. Saya kirimkan cerita saya ke alamat email dia, dan akhirnya saya posting di blog ini.

Saya senang bahwa cerita saya sudah bisa banyak membantu :)

Pesantren - Part II

Yang belum baca Part I, silakan baca di postingan sebelumnya ya :)

(lanjutan)..

Kamar Mandi Pesantren

Setelah mengingat-ingat bentuk kamar mandi saya di pesantren, saya baru sadar, mungkin itu adalah kamar mandi terburuk yang pernah ada. Alas dari kamar mandi ini sepertinya dahulunya adalah alas yang disemen saja, karena keadaannya pada saat itu, alas dari kamar mandi itu adalah batu bata yang sudah keropos dan berlumut. Lumut yang di bawah tidak sebanyak lumut yang menyelimuti bak. Kamar mandi ini terdiri dari 2 bak yang panjang. Bak yang terluar adalah bak yang terbaru. Seperti biasa, seluruh komponen bangunan termewah di pesantren ini adalah disemen, bukan ditempeli dengan keramik. Bak terluar pun dibuat hanya disemen. Sedangkan bak terdalam, kalian tau lapisannya seperti apa? Hitam pekat! Seluruh permukaan dinding bak diselimuti lumut. Bukan hijau, tapi hitam. Tapi airnya tidak kalah jernih. Kamar mandi ini tidak memiliki atap. Tinggi kamar mandi ini sekitar se-leher, jadi para santri perlu menjejerkan tempat sabunnya di sepanjang dinding bagian atas agar dinding bisa tinggi, minimal setinggi kepala. Bentuk tempat sabun yang umum pada saat itu adalah tempat sabun yang berbentuk kotak yang memiliki 2 kotak keranjang kecil. Saya tidak tahu apakah tempat bentuk seperti itu masih ada atau tidak.

Jujur saya katakan, di pesantren ini tidak ada santri perempuan yang belum pernah diintip oleh anak santri laki-laki. Yaa.. bagaimana tidak. Kamar mandi yang tak beratap dan kobong bertingkat. Memang tidak semua santri laki-laki doyan mengintip. Yang mengintip biasanya anak santri yang itu-itu lagi. Mereka anak badung.

Mandi? Yaa.. mandi. Dalam kamar mandi sepanjang itu, tanpa atap, dan alas yang seadanya, para santri perempuan mandi telanjang bersama. Ada yang hanya memakai celana dalam saja, ada juga yang telanjang bulat. Kami sudah biasa. Obrolan mengenai bagian tubuh sering mengisi kekosongan topik pembicaraan. Risih memang. Sangat risih, tapi kami sudah terbiasa.

Yang sedikit menjijikan adalah pada saat menyuci. Para santri tidak menggunakan papan cuci penggilesan. Mereka mencuci dengan tangan. Dan kalian tahu? Mereka menggunakan lantai kamar mandi yang seadaanya itu sebagai papan penggilesan mereka. Bagian yang jijik? Bagian lantai kamar mandi itu seperti permukaan bulan. Selain keropos, lantai juga terdiri dari banyak genangangan air yang tidak pernah surut. Para santri kencing disitu, dan akhirnya mencuci pula di atas bagian tersebut. Kamar mandi santri perempuan cukup memiliki bau yang kurang sedap. Bagaimana tidak, mereka kencing di bagian lantai kamar mandi, bukan di wc. Sehingga terkadang air kencing mereka masih tertinggal di bagian keroposan batu bata itu dan akhirnya mengering lalu menimbulkan bau yang kurang sedap. Wc di kamar mandi perempuan ada 2. Satu terletak di bagian terdalam ruangan kamar mandi ber-bak 2 itu, dan satu terletak di belakang kamar mandi utama. Biasanya kamar mandi samping ini sering digunakan oleh santri kalong. Santri kalong rata-rata tidak mau mandi bersama seperti yang dilakukan oleh para santri di kamar mandi utama. Maklum, mereka adalah orang-orang yang lebih ‘ngota’ (kota). Ruangan kamar mandi samping cenderung lebih kecil 5x lipat dari kamar mandi utama, jadi para santri yang mandi disitu bisa menggunakan kamar mandi seperti biasa. Mandi sendiri, bukan mandi ramai-ramai.

Makan

Setiap santri wajib membawa beberapa liter beras selama tinggal di pesantren. Tiap harinya ada beberapa para santri yang wajib melaksanakan piket masak. Ada sekitar 5-8 santri per hari nya untuk bagian memasak. Santri bagian piket memasak akan masuk ke ruangan beras yang terdiri dari beberapa plastik sesuai dengan jumlah banyaknya santri. Mereka akan mengambil beras di tiap plastik dengan menggunakan batok kelapa. Mereka mengambilnya dengan rata.

Selain beras, kewajiban para santri untuk mendapatkan jatah makanan adalah mereka harus patungan. Besarnya patungan disesuaikan dengan menu makanan yang akan dimasak dan jumlah santri pada saat itu. Semakikn banyak para santri, maka besarnya patungan akan semakin kecil. Masakan yang biasa dimasak biasanya tumis-tumis sayuran. Hampir tidsk pernah mereka memasak ayam atau daging. Besarnya patungann pada saat itu adalah 300-500 rupiah. Kami bisa mendapatkan menu makanan tumis capcay atau tumis buncis. Berapa menu yang dimasak? Satu. Ya, satu. Tidak pernah memasak 2 menu masakan. Dan santri bagian piket masak akan memasak pada sekitar jam 10, setelah mengaji pagi (jam solat dhuha). Makanan itu akan dijatahkan untuk siang hari dan sore hari.

Piring

Piring? Kami tidak membutuhkan piring. Kami hanya butuh nampan besar. Kami menyebutnya, tipsi. Pertipsi, ada sekitar 6-7 orang. Itu bukan berarti bahwa tispinya besar. Ukuran tipsi berdiemeter sekitar mirip dengan ban mobil. 6-7 orangg tersebut makan dengan berdesakan, tapi nikmat. Lupakan rasa kenyang. Kami hanya makan sampai lauk nasi dan nasi di atas tipsi habis. Kenyang dan tidak kenyang, itu hal biasa.

Posisi kami makan? Kami tidak duduk. Karena dapur terletak di belakang kobong, dekat dengan kamar mandi, dan kami tidak ingin balik lagi ke kobong hanya untuk makan, maka kami makan di dapur. Dapur tidak memiliki alas lantai. Hanya tanah. Dapur yang kalian bayangkan bukan dapur standar seperti yang ada di rumah, tetapi ini adalah dapur bilik yang masaknya menggunakan kayu bakar. Kami makan di dekat kayu bakar. Kami makan bersama sambil jongkok. Ya, sambil jongkok. Pada saat makan dan per tipsi memenuhi jumlah santri maksimal, seorang santri akan berkata ‘jangan jongkok menghadap tipsi’. Kami harus jongkok sambil menyamping, dan tipsi ada di sebelah kanan kami. Karena jik kami menghadap ke tipsi, maka santri lain tidak akan mendapatkan jatah tempat jongkok yang baik.

Keprihatinan

Pada saat itu, uang jajan saya sebesar 2000-3000 rupiah. Saya sering membeli jajanan di warung ceu haji (guru perempuan). Uang jajan saya akan habis untuk membeli jajanan kecil yang rata-rata besar harga jajanan perbungkus adalah sekitar 100-1000 rupiah. Besar uang jajan saya sama besarnya dengan besar uang saku santri salap perharinya. Bedanya, uang jajan saya selalu saya habiskan untuk jajanan, sedangkan mereka akan menghabiskan uang saku mereka untuk makan dan menabung untuk membeli kebutuhan hidup mereka seperti sabun dan odol.

Pada saat itu, ada santri perempuan bernama Nar. Ia dari keluarga kurang beruntung. Uang jajan perharinya adalah 500 rupiah. Ia tidak pernah ikut patungan masak lauk nasi. Bagaimana bisa. Patungan masak pada saat itu selalu sebesar 500 rupiah, dan porsinya sangat minim sehingga masakan tidak termasuk untuk menu makan sore. Hal itu dikarenakan jumlah santri yang sedikit pada saat itu. Banyak santri yang mudik dan memiliki kepentingan lain sehingga santri salap yang tinggal di pesantren sangat sedikit. Uang 500 rupiah pada saat itu ia belikan untuk 2 buah bala-bala (bakwan). Harga bala-bala pada saat itu sekitar 300 rupiah, sedangkan di warung pesantren kita bisa mendapatkannya dengan seharga 200 rupiah. Ia membeli 2 buah bala-bala, dan sisa 100 rupiah ia gunakan untuk membeli es teh manis. Satu bala-bala ia makan untuk makan pagi, dan satu bala-bala lagi ia makan untuk makan sore. Untuk makan siang, ia tidak makan nasi. Ia hanya minum es teh itu untuk pengganjal perut.

Sangat memprihatinkan. Santri salap lain tidak bisa membantu banyak. Mereka paling tidak membagi jatah makanan mereka kepada Nar. Biasanya yang bisa memberi bantuan uang adalah santri kalong, seperti saya. Dengan memberikan uang sebesar 500 perak, itu akan sangat berarti sekali bagi dia.

Pemilik Pesantren

Setelah saya menceritakan keadaan pesantren di atas, mungkin pertanyaan yang akan timbul adalah; bagaimana keadaan si pemilik pesantren? Apakah pemilik pesantren tidak melakukan perbaikan terhadap kerusakan-kerusakan di pesantren? Jawabannya karena pemilik pesantren bukan orang berkecukupan juga.

Pemilik pesantren memiliki 5 orang anak. Anak tertua (perempuan) tinggal dan menjadi salah satu guru di pesanten itu. Ia mengajar bergantian dengan suaminya. Anak kedua, ketiga, dan keempat adalah laki-laki, dan anak kelima adalah perempuan. Mereka berempat masih menuntut ilmu. Mereka tinggal di pesantren lain untuk menuntut ilmu.

Pemilik pesantren di Darul Ulum akan jauh dari perkiraan kalian. Dari santri salap, mungkin pemilik pesantren lebih kaya dari mereka. Tetapi jika dibandingkan dengan santri kalong, sang pemilik pesantren tidak lebih kaya dari mereka.

Untuk perkembangan atau perbaikan bangunan pesantren, ia mengandalkan uang sadaqoh atau wakaf dari warga yang ikhlas.

Perbaikan

Di pesantren ini, tidak ada lampu yang benar-benat menerangi kami. Lampu di pesantren ini hanya sebagai penghilang kegelapan, namun tidak sepenuhnya berperan sebagai penerang. Bagaimana tidak, seluruh lampu di ruangan di pesantren ini adalah lampu bohlam kecil berwarna kuning. Satu ruangan yang cukup besar yang seharusnya dipasang dua lampu, hanya memiliki satu lampu kuning. Semenjak saya masuk ke pesantren itu, bapak saya mulai memasang lampu-lampu bercahaya putih. Mata saya minus sejak SD. Bapak saya tidak ingin mata saya menjadi semakin buruk karena pencahayaan yang kurang saat belajar. Saya sangat senang dengan cara penyampaian materi di pesantren ini, dan orangtua saya juga menginginkan saya belajar di pesantren itu dalam jangka waktu panjang. Oleh karena itu, bapak saya mulai melakukan perbaikan. Dari lampu, hingga kemudian lantai.

Mengaapa lantai harus diperbaiki?

Keadaan lantai sebelum diperbaiki sangatlah buruk. Mungkin lantai seperti itu tidak akan lagi kita temukan di tempat jual-beli lantai. Itu bukan keramik, tidak glossy. Saya tidak bisa menjelaskan detilnya seperti apa karena saya hanya menemukan jenis lantai tersebut di pesantren itu. Permukaan lantai sudah keropos. Seperti batu bata, si lantai berwarna orange. Jika kita menempelkan jari di bagian keropos, maka debu atau bubuk berwarna orange akan menempel di jari kita. Begitupun pada saat kita duduk ketika mengaji. Kita perlu membersihkan sarung atau rok kita setelah selesai mengaji karena bubuk-bubuk berwarna orange akan menempel sebagian di rok atau sarung kita.

Posisi Mengaji

Kita mengaji sambil lesehan. Tetapi kita juga tidak menggunakan meja. Kitab akan disimpan di atas pangkuan kita selama melogat. Karena jangka waktu mengaji lumayan lama, terkadang kita melogat sambil tengkurap, karena pegal duduk. Maka nanti kita akan terlihat seperti ikan bandeng yang sedang dijemur. LOL.

Menyetrika

Sebelum para santri banyak memanfaatkan listrik dari stop kontak, tiap menyetrika pakaian, mereka akan menggunakan setrika arang. Pada saat saya kelas 5 SD, sekitar tahun 1999, handphone kurang populer disana. Pada saat itu para santri memang sama sekali tidak pernah memanfaatkan listrik kecuali untuk lampu. Kebanyakan pada saat itu, para santri hanya melipat bajunya. Mereka tidak pernah menyetrika bajunya. Untuk para santri yang ingin menyetrika, mereka akan patungan untuk membeli arang dan sama-sama memanaskan si arang.

Pada saat menyetrika terkadang debu api terbawa terbang oleh angin dan menempel di baju atau kerudung yang di setrika, sehingga baju atau kerudung itu bolong. Itu hal biasa. Jika kita tidak hati-hati maka hal itu akan terjadi. Tidak sedikit para santri yang baju atau kerudungnya berlubang. Lubang kecil hal biasa bagi mereka, asalkan masih bisa dipakai dan lubang itu masih bisa disembunyikan.

Banyak sekali ilmu yang saya pelajari di pesantren Darul Ulum ini. Terutama mengenai keprihatinan. Saya sanggup hidup susah di jaman sekarang. Karena menurut saya, sesulit-sulitnya hidup saya tidak akan sesulit keadaan yang saya alami ketika saya di pesantren ini.

Tapi jangan angga saya adalah anak yang baik dan sempurna. Banyak ilmu yang saya dapat disini. Dasar dan pondasi keagamaan terkokoh saya dapatkan dari tempat ini, namun bukan berarti saya tidak pernah melakukan kesalahan. Saya tidak munafik. Saya suka menggunakan jeans, saya suka memakai parfum, saya suka mendengarkan musik dan saya juga menonton televisi. Tapi saya tetap mengamalkan ilmu-ilmu yang saya dapatkan disini dengan semaksimal mungkin.

Saya belajar di pesantren ini dari kelas 5 SD sampai kelas 3 SMP, karena pada saat SMA orangtua saya menyuruh saya menuntut ilmu di daerah Banjar, Ciamis. Jarak yang ditempuh dari Cikarang adalah sekitar 5-6 jam perjalanan dengan menggunakan bis.

Lagi-lagi. Saya disana tinggal di pesantren. Nama pesantrennya adalah Manazilul Huda. Tapi pesantren disana sangat jauh jauh jauh lebih baik. Lantai dengan keramik putih, kamar mandi yang diberi pembatas, lampu yang benar-benar menerangi, strikaan listrik, kompor minyak, dan kobong per kamar. Apalagi di tambah denagn kebutuhan sekolah, yaitu komputer. Bayangkan saja di kobong saya ada satu set komputer lengkap dengan print dan Simbadda bass sound speaker. Pada awalnya memang pemilik pesantren ini tidak mengijinkan, tetapi setelah bernegosiasi akhirnya ia menyetujui.

Merasakan perbedaan 180 derajat yang saya rasakan ini, saya menjadi sangat tidak prihatin. Setiap harinya saya hanya bermalas-malasan setelah pulang sekolah. Saya mengaji seadanya dan tidak pernah mengulang membaca materi yang baru saja diajarkan. Begitulah kenakalan paling fatal yang pernah saya lakukan. Hehehe.

Masih banyak cerita mengenai kehidupan di pesantren yang masih bisa ditulis, namun mungkin tak sempat saya ceritakan. Saya akan sangat menerima pertanyaan agar cerita ini bisa dikembangkan lebih jauh. Saya juga yakin bahwa mungkin cerita ini akan memiliki interpretasi berbeda diantara penulis dengan pembaca. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan komentar dari kalian. Hehehe. Terima kasih :D

Pesantren - Part I

Saya lahir dari keluarga yang sangat perhatian terhadap ilmu agama. Kami bukan dari kaum ulama atau ustadz-ustadzah. Keluarga saya hanya keluarga biasa yang terbiasa dengan hal-hal keagamaan. Semenjak lahir, saya belajar di surau di samping rumah. Tapi itu cenderung mirip yayasan biasa, karena jika kita mendengar kata ‘surau’, itu akan lebih seperti tempat mengaji yang berada di tempat yang terpencil. Kebetulan yayasan pengajian itu berada di belakang rumah saya. Saya TK disana. Saat masuk SD, saya tetap mengaji disana. Pengajian itu biasa disebut ‘sekolah sore’ karena diadakan setiap setelah pulang sekolah sehabis ashar dan mayoritas muridnya adalah anak sekolah juga. Saya mengikuti sekolah sore sampai saya tingkat 5 sekolah dasar. Semenjak saya menginjak kelas 5 SD, saya dikenalkan dengan dunia pesantren. Pesantren itu bernama Darul Ulum. Jarak pesantren itu adalah sekitar 8 menit dengan menggunakan sepeda motor. Ini lah yang lebih mirip untuk disebut surau. Saya pulang pergi menuju pesantren itu. Setelah pulang sekolah sekitar jam 12, saya istirahat dan menghapal teori untuk mengaji di surau, jam 3 setelah solat ashar, saya diantar oleh bapak menuju surau itu.

Santri Salap & Santri Kalong

Di pesantren, ada dua istilah untuk jenis santri. Ada santri salap (dari kata salafiyah), ada santri kalong. Santri salap adalah santri yang menetap di pesantren yang pulang kampung sekitar setahun sekali atau tiap ied (adha & fitri), sedangkan santri kalong adalah santri yang pulang pergi ke rumah setiap harinya. Meskipun seorang santri kalong itu tidur di pesantren dan jarang pulang ke rumah, tetap ia disebut Santri Kalong, karena tidur di situ diartikan sebagai menginap, meskipun menginap selama satu bulan. Sebenarnya perbedaan yang signifikan itu terlihat dari tujuannya. Santri Kalong itu biasanya santri yang mengaji di samping ia sekolah, sedangkan santri salap biasanya menjadi santri full karena ia sudah tidak meneruskan sekolahnya lagi, karena ia fokus kepada mengaji. Tapi....... Karena biasanya santri salap itu dari kampung yang sangaaaat terpencil, tujuan mereka selain mengaji adalah ‘menunda pernikahan’. Hehehe. Mereka biasanya tamatan SD dan tidak meneruskan sekolah lagi karena perkara biaya dan atau orangtua mereka memnginginkan anak-anaknya untuk memperoleh ilmu yang mendalam mengenai keagamaan.

Saat pertama kali saya menuju pesantren tersebut, saya tidak merasakan hal-hal yang random. Konsepnya memang sangaaaat jadul. Bukan konsep sih, memang keadaannya yang seperti itu. Saat saya sadar bahwa pesantren itu sedikit berbeda adalah ketika saya mulai menceritakan pengalaman saya ini ke teman-teman.

Kobong

Istilah untuk kamar di pesantren adalah ‘Kobong’. Di Darul Ulum, kobong santri perempuan hanya satu, sedangkan kobong santri laki-laki ada beberapa, sekitar 10 kobong. Santrinya cenderung lebih banyak santri perempuan. Untuk kobong laki-laki, ada sekitar 3 sampai 6 orang per kobong, sedangkan untuk perempuan.. there were about 20 people in a raw! Jadi untuk santri perempuan, satu kobong terdiri sekitar 40-50 orang dalam satu kobong. Bentuk ruangannya persegi panjang. Panjaaang sekali. Ada 2 kolom dan 1 baris dalam jajaran tidur, LOL.

Pengajian

Jadwal mengaji ada 6 waktu dalam satu hari. Pengajian setelah solat fardu dan pengajian pagi setelah dhuha. Tapi pengajian yang saya maksud disini bukan pengajian seperti tadarus, mengaji alquran ataupun mendengarkan ceramah. Pengajian disini adalah mengaji kitab kuning. Jadi, sang guru akan membacakan tulisan yang ada di kitab lalu mengartikannya dan kemudian akan menjelaskan. Kemudian kita akan menerjemahkan (disebut melogat, yaitu menuliskan terjemahan aksara gundul dg tulisan arab yang ditulas secara diagonal ke bawah) di kitab kita. Pada saat menerangkan, kita mendengarkan, dan setelah selesai menjelaskan, kita akan membaca aksara gundul tersebut berikut dengan terjemahannya (logatannya). Disini, ada yang menuliskan baris-baris (fatah, kasroh, atau dhomah) di atas aksara gundul, ada pula yang menghapal atau mengerti ilmu alat (sebutan untuk ilmu yang di pakai untuk membaca aksara gundul. Eg. Jurumiyah, Imritii, Alfiyah). Dan lucunya lagi, terkadang sebagian santri tidak bisa membaca hasil logatannya sendiri, LOL. Mereka baru belajar melogat.

Oke, saya akan paparkan jadwal para santri:

03.00 : Bangun pagi. Tahajjud dan tadarus

04.30 : Shalat shubuh berjamaah dan dzikir bersama

05.00 : Pengajian (mengenai Hadits Arba’in)

06.00 : Kembali ke kobong

06.15 : Piket masing-masing bagian (ada piket masak, piket membersihkan kobong, piket menyapu halaman, piket menyapu dan mengepel aula pengajian utama/aula samping/aula belakang, dan juga piket menyuci dan memasak di rumah guru)

06.35 : Sarapan. Mandi. Mengulang membaca materi.

07.00 : Pengajian (mengenai fikih; kitab safinah atau tafsir)

09.00 : kembali ke kobong. Mandi (bagi yang pagi tidak kebagian jatah mandi). Mengulang membaca materi.

10.00 : Piket masak (bagi yang piket). Istirahat. Menyuci. Tidur siang.

11.30 : Wudu. Tadarus.

12.00 : Shalat dzuhur berjamaah dan dzikir bersama.

12.30 : Pengajian (mengenai akidah akhlak)

13.30 : Kembali ke kobong. Mengulang materi. Makan siang. Istirahat.

14.30 : Wudu. Tadarus.

15.00 : Shalat ashar berjamaah dan dzikir bersama

15.30 : Pengajian (mengenai ilmu alat; jurumiyah/alfiyah)

16.30 : Kembali ke kobong. Mengulang materi. Makan sore.

17.30 : Wudu. Tadarus.

18.00 : Shalat magrib berjamaah dan dzikir bersama

18.30 : Hapalan alqur’an

19.00 : Shalat isya berjamaah dan dzikir bersama

19.30 : Pengajian (mengenai tauhid dan ilmu alat)

20.30 : Kembali ke kobong. Mengulang materi.

21.30 : Menghapal materi

22.00 : Tidur. Istirahat.

Sekarang saya akan menceritakan mengenai kehidupan disana, khususnya para santri salap.

Kondisi Tempat Tidur

Saya bisa dibilang orang paling ‘berada’ disana pada saat itu. Setiap santri, khususnya santri salaf, hanya membawa tas yang berisi baju-baju mereka. Untuk lemari atau rak buku, ia akan meminta sekitar 2 kardus mie instann kepada pemilik warung di sekitar. Satu kardus untuk baju-bajunya, dan satu kardus untuk buku dankitab-kitabnya. Apakah cukup baju, daleman, kerudung dan rok dalam satu kardus? Cukup, bagi mereka. Karena mereka tidak akan membawa pakaian lebih dari 3 atau 4 pasang.Kardus kardus tersebut akan dijejerkan di bawah menyesuaikan dengan panjang dinding yang nantinya pemilik kardus akan tidur dengan kardus di atas bagian kepalanya atau di bawah bagian kakinya. Untuk alas tidur? Mereka tidak menggunakan alas. Padahal mereka tidur di atas kayu panjaaang yang tiap sekita 10 cm ada sela-sela udara. Mereka hanya mengandalkan selimut mereka, yaitu menggunakan sarung, untuk mengatasi udara pada malam hari. Untuk bantal, ada sebagian santri yang membawa dari rumahnya atas kesadaran sendiri, dan ada juga yang menggunakan bantal warisan dari generasi sebelumnya. Yang tidak sempat membawa bantal dari rumah dan tidak mendapatkan jatah bantal dari warisan kakak kelas? Ia tidur dengan menggunakan tumpukan baju-bajunya yang digulung dengan handuk. Kita akan tidur layaknya ikan bandeng yang sedang dijemur. Kepala akan bertemu kaki.

Bangun Tidur

Kita harus bangun sebelum subuh. Sebenarnya diwajibkan untuk bangun jam 3, untuk tahajjud atau sahur untuk yang akan puasa sunnah atau qada, tapi bagi sebagian santri yang nakal, biasanya santri kalong, mereka lebih memilih bangun sebelum subuh. Malah ada yang bangun pas dengan adzan subuh. Menurut peraturan pesantren, santri harus sudah siap di mushola (untuk santri perempuan) sebelum adzan berkumandang. Namun begitulan peraturan, pasti saja ada yang melanggar.

Yang bangun jam 3, mereka akan segera mengambil wudu, solat tahajjud, lalu tadarus sampai adzan subuh tiba.