Saturday, 21 May 2011

Pesantren - Part II

Yang belum baca Part I, silakan baca di postingan sebelumnya ya :)

(lanjutan)..

Kamar Mandi Pesantren

Setelah mengingat-ingat bentuk kamar mandi saya di pesantren, saya baru sadar, mungkin itu adalah kamar mandi terburuk yang pernah ada. Alas dari kamar mandi ini sepertinya dahulunya adalah alas yang disemen saja, karena keadaannya pada saat itu, alas dari kamar mandi itu adalah batu bata yang sudah keropos dan berlumut. Lumut yang di bawah tidak sebanyak lumut yang menyelimuti bak. Kamar mandi ini terdiri dari 2 bak yang panjang. Bak yang terluar adalah bak yang terbaru. Seperti biasa, seluruh komponen bangunan termewah di pesantren ini adalah disemen, bukan ditempeli dengan keramik. Bak terluar pun dibuat hanya disemen. Sedangkan bak terdalam, kalian tau lapisannya seperti apa? Hitam pekat! Seluruh permukaan dinding bak diselimuti lumut. Bukan hijau, tapi hitam. Tapi airnya tidak kalah jernih. Kamar mandi ini tidak memiliki atap. Tinggi kamar mandi ini sekitar se-leher, jadi para santri perlu menjejerkan tempat sabunnya di sepanjang dinding bagian atas agar dinding bisa tinggi, minimal setinggi kepala. Bentuk tempat sabun yang umum pada saat itu adalah tempat sabun yang berbentuk kotak yang memiliki 2 kotak keranjang kecil. Saya tidak tahu apakah tempat bentuk seperti itu masih ada atau tidak.

Jujur saya katakan, di pesantren ini tidak ada santri perempuan yang belum pernah diintip oleh anak santri laki-laki. Yaa.. bagaimana tidak. Kamar mandi yang tak beratap dan kobong bertingkat. Memang tidak semua santri laki-laki doyan mengintip. Yang mengintip biasanya anak santri yang itu-itu lagi. Mereka anak badung.

Mandi? Yaa.. mandi. Dalam kamar mandi sepanjang itu, tanpa atap, dan alas yang seadanya, para santri perempuan mandi telanjang bersama. Ada yang hanya memakai celana dalam saja, ada juga yang telanjang bulat. Kami sudah biasa. Obrolan mengenai bagian tubuh sering mengisi kekosongan topik pembicaraan. Risih memang. Sangat risih, tapi kami sudah terbiasa.

Yang sedikit menjijikan adalah pada saat menyuci. Para santri tidak menggunakan papan cuci penggilesan. Mereka mencuci dengan tangan. Dan kalian tahu? Mereka menggunakan lantai kamar mandi yang seadaanya itu sebagai papan penggilesan mereka. Bagian yang jijik? Bagian lantai kamar mandi itu seperti permukaan bulan. Selain keropos, lantai juga terdiri dari banyak genangangan air yang tidak pernah surut. Para santri kencing disitu, dan akhirnya mencuci pula di atas bagian tersebut. Kamar mandi santri perempuan cukup memiliki bau yang kurang sedap. Bagaimana tidak, mereka kencing di bagian lantai kamar mandi, bukan di wc. Sehingga terkadang air kencing mereka masih tertinggal di bagian keroposan batu bata itu dan akhirnya mengering lalu menimbulkan bau yang kurang sedap. Wc di kamar mandi perempuan ada 2. Satu terletak di bagian terdalam ruangan kamar mandi ber-bak 2 itu, dan satu terletak di belakang kamar mandi utama. Biasanya kamar mandi samping ini sering digunakan oleh santri kalong. Santri kalong rata-rata tidak mau mandi bersama seperti yang dilakukan oleh para santri di kamar mandi utama. Maklum, mereka adalah orang-orang yang lebih ‘ngota’ (kota). Ruangan kamar mandi samping cenderung lebih kecil 5x lipat dari kamar mandi utama, jadi para santri yang mandi disitu bisa menggunakan kamar mandi seperti biasa. Mandi sendiri, bukan mandi ramai-ramai.

Makan

Setiap santri wajib membawa beberapa liter beras selama tinggal di pesantren. Tiap harinya ada beberapa para santri yang wajib melaksanakan piket masak. Ada sekitar 5-8 santri per hari nya untuk bagian memasak. Santri bagian piket memasak akan masuk ke ruangan beras yang terdiri dari beberapa plastik sesuai dengan jumlah banyaknya santri. Mereka akan mengambil beras di tiap plastik dengan menggunakan batok kelapa. Mereka mengambilnya dengan rata.

Selain beras, kewajiban para santri untuk mendapatkan jatah makanan adalah mereka harus patungan. Besarnya patungan disesuaikan dengan menu makanan yang akan dimasak dan jumlah santri pada saat itu. Semakikn banyak para santri, maka besarnya patungan akan semakin kecil. Masakan yang biasa dimasak biasanya tumis-tumis sayuran. Hampir tidsk pernah mereka memasak ayam atau daging. Besarnya patungann pada saat itu adalah 300-500 rupiah. Kami bisa mendapatkan menu makanan tumis capcay atau tumis buncis. Berapa menu yang dimasak? Satu. Ya, satu. Tidak pernah memasak 2 menu masakan. Dan santri bagian piket masak akan memasak pada sekitar jam 10, setelah mengaji pagi (jam solat dhuha). Makanan itu akan dijatahkan untuk siang hari dan sore hari.

Piring

Piring? Kami tidak membutuhkan piring. Kami hanya butuh nampan besar. Kami menyebutnya, tipsi. Pertipsi, ada sekitar 6-7 orang. Itu bukan berarti bahwa tispinya besar. Ukuran tipsi berdiemeter sekitar mirip dengan ban mobil. 6-7 orangg tersebut makan dengan berdesakan, tapi nikmat. Lupakan rasa kenyang. Kami hanya makan sampai lauk nasi dan nasi di atas tipsi habis. Kenyang dan tidak kenyang, itu hal biasa.

Posisi kami makan? Kami tidak duduk. Karena dapur terletak di belakang kobong, dekat dengan kamar mandi, dan kami tidak ingin balik lagi ke kobong hanya untuk makan, maka kami makan di dapur. Dapur tidak memiliki alas lantai. Hanya tanah. Dapur yang kalian bayangkan bukan dapur standar seperti yang ada di rumah, tetapi ini adalah dapur bilik yang masaknya menggunakan kayu bakar. Kami makan di dekat kayu bakar. Kami makan bersama sambil jongkok. Ya, sambil jongkok. Pada saat makan dan per tipsi memenuhi jumlah santri maksimal, seorang santri akan berkata ‘jangan jongkok menghadap tipsi’. Kami harus jongkok sambil menyamping, dan tipsi ada di sebelah kanan kami. Karena jik kami menghadap ke tipsi, maka santri lain tidak akan mendapatkan jatah tempat jongkok yang baik.

Keprihatinan

Pada saat itu, uang jajan saya sebesar 2000-3000 rupiah. Saya sering membeli jajanan di warung ceu haji (guru perempuan). Uang jajan saya akan habis untuk membeli jajanan kecil yang rata-rata besar harga jajanan perbungkus adalah sekitar 100-1000 rupiah. Besar uang jajan saya sama besarnya dengan besar uang saku santri salap perharinya. Bedanya, uang jajan saya selalu saya habiskan untuk jajanan, sedangkan mereka akan menghabiskan uang saku mereka untuk makan dan menabung untuk membeli kebutuhan hidup mereka seperti sabun dan odol.

Pada saat itu, ada santri perempuan bernama Nar. Ia dari keluarga kurang beruntung. Uang jajan perharinya adalah 500 rupiah. Ia tidak pernah ikut patungan masak lauk nasi. Bagaimana bisa. Patungan masak pada saat itu selalu sebesar 500 rupiah, dan porsinya sangat minim sehingga masakan tidak termasuk untuk menu makan sore. Hal itu dikarenakan jumlah santri yang sedikit pada saat itu. Banyak santri yang mudik dan memiliki kepentingan lain sehingga santri salap yang tinggal di pesantren sangat sedikit. Uang 500 rupiah pada saat itu ia belikan untuk 2 buah bala-bala (bakwan). Harga bala-bala pada saat itu sekitar 300 rupiah, sedangkan di warung pesantren kita bisa mendapatkannya dengan seharga 200 rupiah. Ia membeli 2 buah bala-bala, dan sisa 100 rupiah ia gunakan untuk membeli es teh manis. Satu bala-bala ia makan untuk makan pagi, dan satu bala-bala lagi ia makan untuk makan sore. Untuk makan siang, ia tidak makan nasi. Ia hanya minum es teh itu untuk pengganjal perut.

Sangat memprihatinkan. Santri salap lain tidak bisa membantu banyak. Mereka paling tidak membagi jatah makanan mereka kepada Nar. Biasanya yang bisa memberi bantuan uang adalah santri kalong, seperti saya. Dengan memberikan uang sebesar 500 perak, itu akan sangat berarti sekali bagi dia.

Pemilik Pesantren

Setelah saya menceritakan keadaan pesantren di atas, mungkin pertanyaan yang akan timbul adalah; bagaimana keadaan si pemilik pesantren? Apakah pemilik pesantren tidak melakukan perbaikan terhadap kerusakan-kerusakan di pesantren? Jawabannya karena pemilik pesantren bukan orang berkecukupan juga.

Pemilik pesantren memiliki 5 orang anak. Anak tertua (perempuan) tinggal dan menjadi salah satu guru di pesanten itu. Ia mengajar bergantian dengan suaminya. Anak kedua, ketiga, dan keempat adalah laki-laki, dan anak kelima adalah perempuan. Mereka berempat masih menuntut ilmu. Mereka tinggal di pesantren lain untuk menuntut ilmu.

Pemilik pesantren di Darul Ulum akan jauh dari perkiraan kalian. Dari santri salap, mungkin pemilik pesantren lebih kaya dari mereka. Tetapi jika dibandingkan dengan santri kalong, sang pemilik pesantren tidak lebih kaya dari mereka.

Untuk perkembangan atau perbaikan bangunan pesantren, ia mengandalkan uang sadaqoh atau wakaf dari warga yang ikhlas.

Perbaikan

Di pesantren ini, tidak ada lampu yang benar-benat menerangi kami. Lampu di pesantren ini hanya sebagai penghilang kegelapan, namun tidak sepenuhnya berperan sebagai penerang. Bagaimana tidak, seluruh lampu di ruangan di pesantren ini adalah lampu bohlam kecil berwarna kuning. Satu ruangan yang cukup besar yang seharusnya dipasang dua lampu, hanya memiliki satu lampu kuning. Semenjak saya masuk ke pesantren itu, bapak saya mulai memasang lampu-lampu bercahaya putih. Mata saya minus sejak SD. Bapak saya tidak ingin mata saya menjadi semakin buruk karena pencahayaan yang kurang saat belajar. Saya sangat senang dengan cara penyampaian materi di pesantren ini, dan orangtua saya juga menginginkan saya belajar di pesantren itu dalam jangka waktu panjang. Oleh karena itu, bapak saya mulai melakukan perbaikan. Dari lampu, hingga kemudian lantai.

Mengaapa lantai harus diperbaiki?

Keadaan lantai sebelum diperbaiki sangatlah buruk. Mungkin lantai seperti itu tidak akan lagi kita temukan di tempat jual-beli lantai. Itu bukan keramik, tidak glossy. Saya tidak bisa menjelaskan detilnya seperti apa karena saya hanya menemukan jenis lantai tersebut di pesantren itu. Permukaan lantai sudah keropos. Seperti batu bata, si lantai berwarna orange. Jika kita menempelkan jari di bagian keropos, maka debu atau bubuk berwarna orange akan menempel di jari kita. Begitupun pada saat kita duduk ketika mengaji. Kita perlu membersihkan sarung atau rok kita setelah selesai mengaji karena bubuk-bubuk berwarna orange akan menempel sebagian di rok atau sarung kita.

Posisi Mengaji

Kita mengaji sambil lesehan. Tetapi kita juga tidak menggunakan meja. Kitab akan disimpan di atas pangkuan kita selama melogat. Karena jangka waktu mengaji lumayan lama, terkadang kita melogat sambil tengkurap, karena pegal duduk. Maka nanti kita akan terlihat seperti ikan bandeng yang sedang dijemur. LOL.

Menyetrika

Sebelum para santri banyak memanfaatkan listrik dari stop kontak, tiap menyetrika pakaian, mereka akan menggunakan setrika arang. Pada saat saya kelas 5 SD, sekitar tahun 1999, handphone kurang populer disana. Pada saat itu para santri memang sama sekali tidak pernah memanfaatkan listrik kecuali untuk lampu. Kebanyakan pada saat itu, para santri hanya melipat bajunya. Mereka tidak pernah menyetrika bajunya. Untuk para santri yang ingin menyetrika, mereka akan patungan untuk membeli arang dan sama-sama memanaskan si arang.

Pada saat menyetrika terkadang debu api terbawa terbang oleh angin dan menempel di baju atau kerudung yang di setrika, sehingga baju atau kerudung itu bolong. Itu hal biasa. Jika kita tidak hati-hati maka hal itu akan terjadi. Tidak sedikit para santri yang baju atau kerudungnya berlubang. Lubang kecil hal biasa bagi mereka, asalkan masih bisa dipakai dan lubang itu masih bisa disembunyikan.

Banyak sekali ilmu yang saya pelajari di pesantren Darul Ulum ini. Terutama mengenai keprihatinan. Saya sanggup hidup susah di jaman sekarang. Karena menurut saya, sesulit-sulitnya hidup saya tidak akan sesulit keadaan yang saya alami ketika saya di pesantren ini.

Tapi jangan angga saya adalah anak yang baik dan sempurna. Banyak ilmu yang saya dapat disini. Dasar dan pondasi keagamaan terkokoh saya dapatkan dari tempat ini, namun bukan berarti saya tidak pernah melakukan kesalahan. Saya tidak munafik. Saya suka menggunakan jeans, saya suka memakai parfum, saya suka mendengarkan musik dan saya juga menonton televisi. Tapi saya tetap mengamalkan ilmu-ilmu yang saya dapatkan disini dengan semaksimal mungkin.

Saya belajar di pesantren ini dari kelas 5 SD sampai kelas 3 SMP, karena pada saat SMA orangtua saya menyuruh saya menuntut ilmu di daerah Banjar, Ciamis. Jarak yang ditempuh dari Cikarang adalah sekitar 5-6 jam perjalanan dengan menggunakan bis.

Lagi-lagi. Saya disana tinggal di pesantren. Nama pesantrennya adalah Manazilul Huda. Tapi pesantren disana sangat jauh jauh jauh lebih baik. Lantai dengan keramik putih, kamar mandi yang diberi pembatas, lampu yang benar-benar menerangi, strikaan listrik, kompor minyak, dan kobong per kamar. Apalagi di tambah denagn kebutuhan sekolah, yaitu komputer. Bayangkan saja di kobong saya ada satu set komputer lengkap dengan print dan Simbadda bass sound speaker. Pada awalnya memang pemilik pesantren ini tidak mengijinkan, tetapi setelah bernegosiasi akhirnya ia menyetujui.

Merasakan perbedaan 180 derajat yang saya rasakan ini, saya menjadi sangat tidak prihatin. Setiap harinya saya hanya bermalas-malasan setelah pulang sekolah. Saya mengaji seadanya dan tidak pernah mengulang membaca materi yang baru saja diajarkan. Begitulah kenakalan paling fatal yang pernah saya lakukan. Hehehe.

Masih banyak cerita mengenai kehidupan di pesantren yang masih bisa ditulis, namun mungkin tak sempat saya ceritakan. Saya akan sangat menerima pertanyaan agar cerita ini bisa dikembangkan lebih jauh. Saya juga yakin bahwa mungkin cerita ini akan memiliki interpretasi berbeda diantara penulis dengan pembaca. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan komentar dari kalian. Hehehe. Terima kasih :D

No comments:

Post a Comment